LOGIKA SEORANG FILOSOFI

Posted in Uncategorized on January 25, 2012 by opick_agribisnistrunojoyo

.          

Dari Filsafat ke Logika

OLEH : MUSFIQUR RAHMAN

Filsafat merupakan ilmu yang paling tua. Itulah sebabnya orang mengatakan bahwa filsafat merupakan ibu dari segala ilmu. Namun, apayang dimaksud dengan filsafat dan bagaimanakah hubungannya dengan logika?

Filsafat merupakan kosakata bahasa Indonesia yang diambil dari bahasa Arab, falsafah. Falsafah itu sendiri berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philos artinya ‘suka’, ‘gemar’, atau ‘cinta’ dan sophia artinya ‘bijak’ atau ‘kebijaksanaan’. Jadi, philosophia dapat diartikan ‘cinta pada kebijakan’.

Terdapat beberapa kata yang dikembangkan dari kata filsafat. Kata-kata yang dimaksudkan yaitu: filosof, filosofi, dan filosofis. Filsafat itu sendiri merupakan sebuah disiplin ilmu. Ia merupakan disiplin ilmu yang berintikan logika (penalaran yang tepat), estetika (keindahan rasa, kaidah, maupun sifat hakiki dari keindahan itu), metafisika (segala sesuatu yang ada di luar alam biasa), dan epistimologi (dasar-dasar pengetahuan terutama dalam batas-batas hubungan dan nilai). Filosof yaitu orang yang ahli dalam filsafat. Filosofi memiliki makna ilmu filsafat. Filosofis yakni bersifat filsafat, misalnya pada kalimat, “Buah pikiran yang dikemukakannya sangat filosofis dan dalam”.

Dalam pemakaian sehari-hari, kata filsafat sering diartikan menjadi cara berpikit atau alam pikiran. Orang yang mau berpikir sering disebut orang yang berfilsafat. Orang yang berpikir secara filsafat atau lazim disebut filosofis yaitu orang yang berpikir sungguh-sungguh dan mendalam penuh kebijakan. Oleh karena itu, tidaklah heran jika ada orang yang berkata, “Seseorang pada dasarnya filosof”. Pernyataan itu benar, namun tidak seluruhnya. Filosof hanyalah orang yang berpikir sungguh-sungguh dan mendalam dengan penuh kebijakan mengenai suatu objek, misalnya: ketuhanan, alam semesta, juga manusia serta dapat menghasilkan suatu pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia seharusnya setelah beroleh pengetahuan tersebut.

Aristoteles dalam Bakry membagi filsafat menjadi empat bagian yaitu: (1) logika; (2) filsafat teoretis yang membawahi tiga cabang ilmu yaitu: fisika, matematika dan biologi; (3) filsafat praktis yang juga melingkupi tiga cabang yakni: etika, ekonomi, dan politik; serta (4) filsafat puitika atau kesenian.

Aristoteles berpendapat bahwa logika merupakan ilmu yang menjadi dasar segala ilmu. Ia merupakan ilmu pendahuluan bagi filsafat. Secaraetimologis, kata logika dalam bahasa Indonesia dipungut dari bahasa Belanda yang mulanya berasal dari bahasa Yunani dengan kata sifat logike yang berkaitan dengan kata logos dengan makna kata atau pikiran. Kata ataupikran yang dimaksud di sini adalah yang benar atau yang sehat. Pikiran yang benar atau sehat itu dimanifestasikan dalam bahasa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa logika atau mantiq adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari pikiran sehingga orang yang mempelajarinya itu dapat berpikir dan berbahasa secara benar.

B.            Macam Logika

Manusia merupakan mahluk Allah yang sempurna. Itu karena Allah memberikan akal kepada mereka. Dengan akal inilah manusia dan pikirannya merupakan bagian dari isi alam yang paling mulia. Tidak ada yang termulia di dunia yang melebihi manusia dengan akalnya. Itulah sebabnya Allah mengangkat derajat mahluk ini menjadi halifah di alam raya.

Dengan akalnya pula, manusia terus berpikir mencari hakikat kebenaran. Logika sebagai suatu disiplin ilmu sebenarnya berusia sama tuanya dengan kehadiran manusia pertama di mika bumi. Tentu saja, karena manusia pertama berpikir berdasarkan kodrat dan fitrahnya, maka pikiranyang muncul pun sederhana – sebuah pikiran alamiah – . Itulah sebabnya logika tersebut dinamakan logika natural. Karena dari masa ke masa manusia berubah (karena manusia selalu cenderung berusaha mengubah nasibnya, hari ini harus lebih baik dari hari yang lalu dan yang akan dating harus lebih baik dari hari ini), maka logika pun berkembang. Salam (1988) menyebutkan bahwa selain logika natural, terdapat bermacam-macam logika, yaitu: logika ilmiah, logika artificial, logika tradisional, logika formal, dan logika materiil.

Seperti yang telah diulas, logika natural merupakan logika yang paling sederhana, alamiah, dan belum dikembangkan. Jika dibandingkan dengan kehidupan sekarang, kita dapat melihat anak-anak yang belum “berpikir”. Mereka berpikir seperti: ibu tidak sama dengan ayah, makan berbeda dengan minum, atau tertawa berlainan dengan menangis. Seperti itulah manusia “lama” berpikir.

Logika Ilmiah sebenarnya merupakan lanjutan dari logika natural. Ia lahir jika manusia dibimbing untuk dapat menggunakan pikirannya secara maksimal. Bimbingan itu diberikan secara sistematis sehingga mereka dapat menguasai pola-pola berpikir secara teratur sesuai dengan hokum ketetapan dan kebenaran berpikir. Logika ilmiah diberikan lewat dunia pendidikan.

Logika Artificial sering pula disebut logika tradisional. Dikatakan demikian, karena logika ini lahir berdasarkan tradisi kuno sejak filosof Aristoteles berhasil merumuskan kaidah-kaidah logika dalam bukunya yang terkenal Organon yang maknanya instrument atau alat. Yang dimaksud adalah alat untuk berpikir secara sehat dan benar. Buku itu dianggap sebagai induk logika. Sebenarnya, sebelum Aristoteles sedah ada kaidah-kaidah logika yang merupakan ajaran tentang berpikir benar dari Negara-negara timur kuno seperti: Mesir, Babilonia, India dan Tiongkok. Namun, semuanya belum sistematis seperti kaidah-kaidah logika Aristoteles.

Pada masa Aristoteles, terdapat beberapa kelompok yang saling bertentangan. Mereka mempertahankan kebenaran berpikir masing-masing terhadap suatu masalah atau objek. Mereka menganggap bahwa diri mereka atau golongan merekalah yang benar, yang lainnya salah. Apakah kedua-duanya dapat benar atau salah? Menghadapi kenyataan seperti itulah pengetahuan logika sebagai “organon” atau alat dapat dipergunakan untuk mengkajinya sehingga didapatkan kebenaran. Logika tradisional ini kemudian dikembangkan menjadi Logika Formal dan Logika Materiil.

Logika Formal mempelajari azas-azas, kaidah-kaidah, atau hukum-hukum berpikir yang harus ditaati agar manusia dapat berpikir secaraatau benar untuk mencapai kebenaran. Logika formal ini untuk mempelajari filsafat itu secara mendalam. Logika formal ini lazim disebut pula Logika Minor.

Logika Materiil mempelajari langsung pekerjaan akal serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan praktis yang riil. Apakah hasil kerja logika formal itu sudah sesuai dengan kenyataannya atau belum. Logika materiil mempelajari : (1) asal usul dan sumber pengetahuan ; (2) alat-alat pengetahuan ; (3) proses terjadinya pengetahuan ; (4) batas-batas penjelajahan pengetahuan ; dan akhirnya (5) merumuskan metode ilmu pengetahuan tersebut. Logika materiil disebut pula Logika Mayor. Logika mayor inilah yang menjadi sumber yakni menimbulkan filsafat mengenal (kinnesleer) dan filsafat ilmu pengetahuan (wetenschapsleer).

A.           Logika dan Penalaran

Manusia merupakan mahluk yang berakal. Dengan akalnya, manusia berpikir. Proses berpikir biasanya bertolak dari pengamatan indera atau observasi empirik. Proses itu dalam pikiran menghasilkan sejumlah pengertian dan sekaligus keputusan. Berdasarkan pengamatan terhadap objek sejenis, maka pikiranpun akan menetapkan keputusan atau proposisi yang sejenis pula. Itulah yang disebut dengan penalaran. Dengan kalimat lain, penalaran dapat diartikan sebagai proses berpikir tentang sesuatu kebenaran yang telah ada untuk menghasilkan kebenaran yang baru.

Untuk menjelaskan pernyataan di atas, kita dapat mengambil suatu peristiwa sebagai contoh. Orang memanaskan beberapa benda cair. Benda cair pertama dipanaskan, lalu menguap. Benda cair kedua dipanaskan, hasilnya sama yakni menguap. Kita melakukannya terhadap sepuluh macam benda cair, ternyata hasilnya sama: menguap. Jika orang yang mengamati fenomena itu sadar, maka dia akan menduga, benda cair yang lainnya pun jika dipanaskan juga akan menguap. Apa yang terjadi dari proses tersebut, berdasarkan sejumlah proposisi yang sudah diketahui dan dianggap benar, orang pun akan menyimpulkan proposisi baru terhadap sejumlah objek lain yang sejenis yang belum diketahui.

Dalam penalaran, proposisi-proposisi yang menjadi dasar penyimpulan dinamakan antesedens atau premis sedangkan kesimpulannya disebut konsekuens atau konklusi. Di antara premis dan konklusi, ada hubungan tertentu yang lazim disebut konsekuensi.

Produk penalaran berupa pengetahuan berkaitan dengan aktivitas berpikir bukan aktivitas emosi. B. Pascal mengatakan bahwa hati manusia sebenarnya mempunyai logika sendiri, namun tidak semua aktivitas berpikir berlandaskan pada penalaran. Oleh karena itu, penalaran merupakan aktivitas berpikir yang mempunyai ciri-ciri tertentu dalam menemukan suatu kebenaran.

Ada dua ciri yang menunjukkan bahwa penalaran merupakan sebuah aktivitas berpikir. Pertama, dalam penalaran terdapat pola berpikir yang disebut logika atau proses berpikir logis. Proses berpikir logis harus diterapkan secara konsisten (taat azas) dan konsekuen sehingga kita menggunakan pola berpikir yang sama untuk hal-hal tertentu. Jangan sampai terjadi, dalam menetapkan suatu proposisi, orang bertitik tolak dari proposisi-proposisi yang berbeda. Hal ini tentu saja tidak logis. Kedua, dalam penalaran adanya sifat yang analitis dari proses berpikir manusia. Sifat analitis ini didasarkan pada logika tertentu dengan pola-pola berpikir tertentu pula. Oleh karena itu, langkah-langkah yang ditempuhnya pun akan sesuai dengan pola pikir yang digunakan sebagai landasannya.

Proses penalaran meliputi aktivitas mencari preposisi-preposisi untuk disusun menjadi premis. Selanjutnya, orang akan menilai kaitan proposisi-proposisi di dalam premis itu berakhir dengan penetapan konklusi. Penyimpulan dalam pengertian sesungguhnya bukan meliputi aktivitas menemukan proposisi-proposisi yang disusun dalam premis, melainkan hanya menilai hubungan proposisi-prososisi didalam premis dan menentukan konklusinya.

Penalaran itu sebenarnya aktivitas berpikir yang masih abstrak. Hasil penalaran itu dimanifestasikan dalam bahasa yang lazim disebut argumen. Argumen inilah yang sebenarnya bukti dalam menentukan kebenaran konklusi dari suatu premis.

Selain cara pengambilan konklusi seperti di atas, dalam kehidupan sehari-hari terdapat suatu penarikan konklusi yang tidak didasarkan atas penalaran yang berlandaskan logika. Ada proses berpikir yang tidak dilandasi oleh penalaran yang dikenal dengan sebutan intuisi. Intuisi dapat dimaknai sebagai suatu aktivitas berpikir yang non-analitik dan tanpa dilandasi oleh pola-pola tertentu. Dengan demikian, cara berpikir manusia dapat dibedakan atas: (1) berpikir yang dilandasi oleh pola-pola tertentu yang taat azas yangdisebut penalaran; dan (2) berpikir yang tidak taat azas yang disebut dengan intuisi.

 

B.            Logika dan Pengetahuan

Wujud kongkret penalaran adalah argumen. Produk argumen ini disebut pengetahuan. Oleh karena itu, dalam mempelajari logika ini, kita sebaiknya memaparkan pengertian pengetahuan serta sumbernya terlebih dahulu.

Di samping kata pengetahuan, kita sering mendengar istilah ilmu. Ilmu sebenarnya memiliki makna yang sama dengan pengetahuan. Namun, untuk mempertegas arti, sering keduanya digabungkan menjadi ilmu pengetahuan. Diketahui pula bahwa pengetahuan merupakan hasil dari aktivitas tahu. Keistimewaan pengetahuan yaitu bahwa hasil aktivitas tahu itu diperoleh melalui alat pikiran. Pengetahuan pada dasarnya hasil penalaran seseorang atau gagasan yang relevan dengan benda yang sebenarnya dan yang diyakini kebenarannya.

Berdasarkan kenyataan tersebut, pengetahuan minimal harus mampu memenuhi persyaratan: (1) adanya gagasan dalam pikiran; (2) gagasan itu relevan dengan benda yang sesungguhnya; dan (3) diyakini kebenarannya tentang adanya penyesuaian gagasan dengan benda yang sebenarnya. Jika salah satu syarat minimal itu tidak terpenuhi, maka pengetahuan itu diragukan kebenarannya.

Sebenarnya, pengetahuan lahir diawali oleh adanya rasa heran dan ingin tahu yang mendorong seorang ilmuwan melakukan penelitian-penelitian. Dalam hidup ini, manusia sering melihat masalah, memikirkannya, mengamatinya dengan cermat, dan kemudian menghubung-hubungkan hasil pengamatannya itu.

Marilah kita mengambil contoh yang sangat sedrhana. Katakanlah di laut banyak ikan. Hal itu berarti dalam pikiran kita ada suatu gagasan tentang adanya laut dan di dalamnya hidup bermacam-macam ikan. Gagasan itu sesuai dengan realita yang betul-betul ada. Akhirnya kita meyakini bahwa memang di laut banyak terdapat ikan.

Dengan perkataan lain, suatu pengetahuan lahir dari hasil pemikiran ilmiah. D.C. Mulder mengemukakan minimal ada empat hal yang harus diperhatikan oleh pemikir ilmiah. Keempatnya yaitu : (1) berpikir ilmiah selalu mengkhususkan kepada hal yang dipikirkan ; (2) bertanya terus menerus tentang hal yang dipikirkan ; (3) pertanyaan itu dijawab dengan argumentasi yang kuat ; dan (4) semuanya disertakan pula sistematis dan keteraturan.

Adinegoro mengatakan bahwa tiap-tiap bagian dari dunia pengetahuan mengusahakan agar mencapai kemajuan di bidang masing-masing dengan mengumpilkan bukti-bukti yang lengkap, sedangkan logika mencari aturan-aturan dan hukum-hukum cara berpikir yang sesuai dan perlu untuk mencapai hasil yang baik dan benar dalam memajukan ilmu pengetahuan pada umumnya. Logika tidak mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi mengajarkan cara memikirkan sesuatu.

Mehra dan Burhan mengatakan bahwa ada tiga sumber pengetahuan. Ketiganya yaitu : (1) pengetahuan diperoleh dari pengamatan langsung ; (2) pengetahuan diperoleh dari suatu konklusi ; dan (3) pengetahuan diperoleh dari suatu kesaksian atau otoritas.

Selanjutnya Mehra dan Burhan mengatakan bahwa pengetahuan langsung dapat diperoleh dari dua sumber yaitu persepsi ekstern dan persepsi intern. Pada persepsi ekstern secara langsung kita dapat mengetahui adanya suatu benda dalam dunia luar dengan melalui alat-alat indera. Pada persepsi intern, yang biasa kita sebut instropeksi secara langsung kita dapat mengetahui atau merasakan keadaan dalam diri kita sendiri, misalnya kebahagiaan dan kesedihan.

Untuk menarik konklusi yang baru tentang sesuatu yang belum diketahui berdasarkan pada kenyataan atau data yang sudah ada. Data itu diperoleh dari pengetahuan langsung. Contohnya : pada siang hari udara panas oleh sinar dan dari panasnya sinar tersebut kita mengetahui bahwa ada matahari. Di sini yang kita ketahui terlebih dahulu yaitu adanya sinar matahari pada siang hari yang berudara panas, kita menarik suatu konklusi bahwa ada matahari yang bersinar. Jadi, pengetahuan kita tentang adanya matahari diperoleh setelah menarik suatu konklusi bahwa ada matahari yang bersinar.

Pengetahuan ada yang diperoleh dari kesaksian. Maksudnya, keterangan itu berasal dari seseorang yang dipercaya. Kita harus menyadari bahwa untuk memperoleh pengetahuan secara langsung sangat terbatas. Manusia pun mencari jalan lain. Salah satu cara yang dapat ditempuh yaitu mencari keterangan dari orang yang dapat dipercaya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berdialog atau membaca karya mereka. Di lain pihak, otoriti menghendaki kekuatan untuk mempengaruhi pendapat dan menanamkan kepercayaan. Kekuatan itu dapat dimiliki oleh individu, benda, atau suatu lembaga. Sebelum diterima, pengetahuan yang diperoleh itu harus diuji terlebih dahulu dengan cermat. Dengan demikian, kita akan terhindar dari kesesatan yang disebabkan oleh pengaruh individu, benda, atau lembaga tersebut.

Selain ketiga sumber tersebut, ada lagi sumber pengetahuan yang lain yaitu wahyu Allah. Pengetahuan jenis ini disampaikan oleh para nabi dan utusan Allah sejak Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad saw. Wahyu Allah ini dikodifikasikan dalam tiga buah kitab suci yaitu Taurat, Injil dan Alquran. Wahyu Allah ini berisi pengetahuan, baik mengenai kehidupan yang terjangkau oleh empiri maupun mencakup permasalahan yang transedental yaitu latar belakang terciptanya manusia, dunia serta isinya dan kehidupan abadi di akhirat kelak. Berbeda dengan tiga sumber pengetahuan di atas, pengetahuan yang bersumber dari Allah dimulai oleh keyakinan. Bertitik pangkal dari keyakinan inilah kita melakukan pengkajian.

C.           Logika dan Bahasa

Sudah dikatakan bahwa penalaran adalah sesuatu yang abstrak. Ia akan berwujud jika dikemukakan. Alat untuk mewujudkannya itu adalah bahasa.

Ada yang mengatakan bahwa bahasa menunjukkan pikiran pemakainya. Jika bahasa itu rancu, maka hal itu sebagai akibat dari kerancuan berpikir pemakainya karena tautan antara bahasa dan pikiran begitu erat. Jika kita membaca kalimat harus dua atau tiga kali, karena kita tidak segera memahami makna yang dikandungnya, padahal yang digunakan itu bahasa kita sendiri. Jika itu terjadi maka dapat dikatakan bahwa bahasa yang digunakannya itu tidak tersusun secara benar. Padahal uraian ilmu atau budaya yang sangat rumit sekalipun akan dapat kita serap, kita pahami, jika disusun dengan bahasa yang runtun. Berikut ini, contoh kalimat-kalimat yang kurang tepat daya nalarnya.

Seorang pembawa acara dalam suatu pertemuan berkata, “Hadirin yang saya hormati, selanjutnya kita menginjak pada acara sambutan yang ketiga yaitu dari Bapak Rektor. Waktu dan tempat kami persilakan.

Daya nalar yang tidak logis dari pembicara pada kalimat di atas kadang-kadang ditanggapi secara logis oleh pendengarnya. Rektor seharusnya jangan beranjak dari tempat duduknya, karena yang dipersilakan memberikan sambutan bukan dirinya, melainkan waktu dan tempat.

Sebenarnya, tidak ada bahasa yang kacau. Kekacauan sebuah struktur bahasa hanya ganbaran kekacauan lingual, tetapi kekacauan kognitif. Kekacauan bahasa bukanlah sebab tetapi hanya merupakan akibat dari kekacauan pikiran penggunanya. Untuk berpikir jernih, diperlukan situasi yang jernih pula.

D.           Manfaat Mempelajari Logika

Manfaat mempelajari logika sudah banyak diperdebatkan orang. Banyak orang yang merasa dirinya sudah dapat berpikir logis, mampu berdebat dengan sistematis. Padahal tidak mempelajari logika. Sebaliknya, yang telah banyak mempelajari logika merasa bosan dan jemu dengan teknik dan analisis yang terdapat dalam proses berlogikanya. Kenyataan lain menunjukkan tidak sedikit orang yang mempelajari logika berbuat “kesalahan logis“ atau kesesatan.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus mengembalikan bahwa tujuan logika sebagai suatu studi ilmiah hanya untuk memberikan prinsip-prinsip dan hukum-hukum berpikir yang benar. Akan digunakan atau tidaknya apa yang telah diperolehnya itu, bergantung kepada pribadi masing-masing.

Bapak logika, Aristoteles pertama kali memaparkan cara berpikir yang teratur dengan prinsip-prinsip dan hukum-hukum yang taat azas. Logika, tidak lain merupakan cara berpikir secara teratur, taat azas, setia pada aturan yang tepat. Jadi, dalam berpikir kita selalu mempertautkan isi pikiran itu secara benar.

Berdasarkan paparan di atas, kita menyadari bahwa banyak manfaat yang dapat ditimba dengan mempelajari logika. Berikut ini Mehra dan Burhan memaparkan tiga manfaat mempelajari logika.

(1)        Logika menyatakan, menjelaskan, dan mempergunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat dipergunakan dalam semua lapangan ilmu pengetahuan.

(2)        Pelajaran logika menambah daya pikir abstrak dan ddengan demikian melatih dan mengembangkan daya pemikiran dan menimbulkan disiplin intelektual.

(3)        Logika mencegah kita tersesat oleh segala sesuatu yang kita peroleh berdasarkan otoriti.

Kesaktian Pancasila, Makna dan Simbologi di Baliknya

Posted in Uncategorized on January 25, 2012 by opick_agribisnistrunojoyo


1 Oktober di Indonesia diperingati sebagai hari kesaktian pancasila. Peringatan Kesaktian Pancasila ini berakar pada sebuah peristiwa tanggal 30 September 1965. Konon, ini adalah awal dari Gerakan 30 September (G30SPKI). Oleh pemerintah Indonesia, pemberontakan ini merupakan wujud usaha mengubah unsur Pancasila menjadi ideologi komunis.

Hari itu, enam orang Jendral dan berberapa orang lainnya dibunuh sebagai upaya kudeta. Namun konon berkat kesadaran untuk mempertahankan Pancasila maka upaya tersebut mengalami kegagalan.

Maka 30 September diperingati sebagai Hari Peringatan Gerakan 30 September dan tanggal 1 Oktober ditetapkan sebagai Hari Kesaktian Pancasila.

Pancasila secara de yure dan de facto memang merupakan dasar negara Republik Indonesia resmi. Beberapa dokumen penetapannya ialah :

        Rumusan Pertama : Piagam Jakarta – tanggal 22 Juni 1945

        Rumusan Kedua : Pembukaan Undang-undang Dasar – tanggal 18 Agustus 1945

        Rumusan Ketiga : Mukaddimah Konstitusi Republik Indonesia Serikat – tanggal 27 Desember 1949

        Rumusan Keempat : Mukaddimah Undang-undang Dasar Sementara – tanggal 15 Agustus 1950

        Rumusan Kelima : Rumusan Kedua yang dijiwai oleh Rumusan Pertama (merujuk Dekrit Presiden 5 Juli 1959)

Hari kesaktian pancasila

Setiap tanggal 1 Oktober rakyat Indonesia memperingati Hari Kesaktian Pancasila dengan diadakannya upacara di berbagai instansi pemerintah, dan untuk skala nasional upacara tersebut diadakan di lokasi tempat terjadinya sejarah yaitu di Lubang Buaya.

Masih saktikah Pancasila?
Banyak wacana muncul akhir-akhir ini yang menyatakan kalau Pancasila sudah tidak sakti lagi atau bahkan di berbagai media memberitakan bahwa Pancasila sudah “dilupakan” di Indonesia. Jadi apakah benar kenyataan itu?

Jawabannya adalah ada pada diri kita masing-masing, dan mungkin kita perlu sedikit merenungkan untuk hal tersebut, apakah kita masih berperilaku seperti yang tersirat dalam jiwa pancasila? atau apakah kita sudah melenceng?

Melihat perkembangan kondisi di Indonesia belakangan ini mungkin kita menganggap kalau rakyat Indonesia sudah tidak lagi ber”Pancasila” dengan adanya kerusuhan dimana-mana yang timbul karena masalah yang berkaitan dengan sila pertama yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Yaitu dengan ricuhnya kelompok agama mayoritas melawan minoritas dengan alasan-alasan tertentu.

Padahal kalau kita telaah lagi, terjadinya “bentrokan” seperti itu terkadang belum tentu benar-benar karena soal agama, mungkin karena ada satu alasan kepentingan tertentu yang ingin dicapai oleh “segelintir” personal, maka dengan kekuatannya mereka menggunakan alasan keagamaan untuk mendapatkan tujuannya.

KETAHANAN PANGAN DAN TEKNOLOGI PRODUKTIVITAS MENUJU KEMANDIRIAN PERTANIAN INDONESIA

Posted in Uncategorized on January 25, 2012 by opick_agribisnistrunojoyo

Pendahuluan

Impor beras yang meningkat pesat terjadi pada tahun 1996 dan puncaknya pada tahun 1998 yang mencapai 5,8 juta ton. Kondisi ini mewarnai krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1997 dimana produksi beras nasional turun yang antara lain karena kekeringan panjang.

Pada komoditi jagung meskipun pada tahun 1996 terjadi penurunan produksi, namun pada tahun 1998 justru terjadi surplus (ekspor) meskipun hanya kecil. Hal ini diduga karena banyak masyarakat yang memanfaatkan lahan tidur untuk komoditas jagung. Namun pada tahun-tahun berikutnya sampai saat ini produksi jagung cenderung turun dan impor semakin besar (lebih dari 2 juta ton/tahun).

Produksi kedelai nasional tampak mengalami kemunduran yang sangat memprihatinkan. Sejak tahun 2000, kondisi tersebut semakin parah, dimana impor kedelai semakin besar. Hal ini terjadi antara lain karena membanjirnya Impor akibat fasilitas GSM 102, kredit Impor dan “Triple C” dari negara importir yang dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh importir kedelai Indonesia, disisi lain produktivitas kedelai nasional yang rendah dan biaya produksi semakin tinggi di dalam negeri. Akibat kebijakan di atas harga kedelai impor semakin rendah sehingga petani kedelai semakin terpuruk dan enggan untuk menanam kedelai. Dampaknya pada harga kedelai petani tidak bisa bersaing dengan membanjirnya kedelai Impor dan petani kedelai tidak terlindungi.

Melihat kenyataan tersebut seakan kita tidak percaya sebagai negara agraris yang mengandalkan pertanian sebagai tumpuan kehidupan bagi sebagian besar penduduknya tetapi pengimpor pangan yang cukup besar. Hal ini akan menjadi hambatan dalam pembangunan dan menjadi tantangan yang lebih besar dalam mewujudkan kemandirian pangan bagi bangsa Indonesia. Oleh karena itu diperlukan langkah kerja yang serius untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada dalam rangka memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri.

Permasalahan Produksi Dan Upaya Mengatasi Masalah Pangan Nasional

Rendahnya laju peningkatan produksi pangan dan terus menurunnya produksi di Indonesia antara lain disebabkan oleh: (1) Produktivitas tanaman pangan yang masih rendah dan terus menurun; (2) Peningkatan luas areal penanaman-panen yang stagnan bahkan terus menurun khususnya di lahan pertanian pangan produktif di pulau Jawa. Kombinasi kedua faktor di atas memastikan laju pertumbuhan produksi dari tahun ke tahun yang cenderung terus menurun. Untuk mengatasi dua permasalahan teknis yang mendasar tersebut perlu dilakukan upaya-upaya khusus dalam pembangunan pertanian pangan khususnya dalam kerangka program ketahanan pangan nasional.

Upaya Meningkatkan Produktivitas Tanaman Pangan

Rata-rata produktivitas tanaman pangan nasional masih rendah. Rata-rata produktivitas padi adalah 4,4 ton/ha (Purba S dan Las, 2002) jagung 3,2 ton/ha dan kedelai 1,19 ton/ha. Jika dibanding dengan negara produsen pangan lain di dunia khususnya beras, produktivitas padi di Indonesia ada pada peringkat ke 29. Australia memiliki produktivitas rata-rata 9,5 ton/ha, Jepang 6,65 ton/ha dan Cina 6,35 ton/ha ( FAO, 1993).

Faktor dominan penyebab rendahnya produktivitas tanaman pangan adalah (a) Penerapan teknologi budidaya di lapangan yang masih rendah; (b)Tingkat kesuburan lahan yang terus menurun (Adiningsih, S, dkk., 1994), (c) Eksplorasi potensi genetik tanaman yang masih belum optimal (Guedev S Kush, 2002).

Rendahnya penerapan teknologi budidaya tampak dari besarnya kesenjangan potensi produksi dari hasil penelitian dengan hasil di lapangan yang diperoleh oleh petani. Hal ini disebabkan karena pemahaman dan penguasaan penerapan paket teknologi baru yang kurang dapat dipahami oleh petani secara utuh sehingga penerapan teknologinya sepotong-sepotong (Mashar, 2000). Seperti penggunaan pupuk yang tidak tepat, bibit unggul dan cara pemeliharaan yang belum optimal diterapkan petani belum optimal karena lemahnya sosialisasi teknologi, sistem pembinaan serta lemahnya modal usaha petani itu sendiri. Selain itu juga karena cara budidaya petani yang menerapkan budidaya konvensional dan kurang inovatif seperti kecenderungan menggunakan input pupuk kimia yang terus menerus, tidak menggunakan pergiliran tanaman, kehilangan pasca panen yang masih tinggi 15 – 20 % dan memakai air irigasi yang tidak efisien. Akibatnya antara lain berdampak pada rendahnya produktivitas yang mengancam kelangsungan usaha tani dan daya saing di pasaran terus menurun. Rendahnya produktivitas dan daya saing komoditi tanaman pangan yang diusahakan menyebabkan turunnya minat petani untuk mengembangkan usaha budidaya pangannya, sehingga dalam skala luas mempengaruhi produksi nasional.

Untuk mengatasi permasalahan di atas pemerintah harus memberikan subsidi teknologi kepada petani dan melibatkan stakeholder dalam melakukan percepatan perubahan (Saragih, 2003). Subsidi teknologi yang dimaksud adalah adanya modal bagi petani untuk memperoleh atau dapat membeli teknologi produktivitas dan pengawalannya sehingga teknologi budidaya dapat dikuasai secara utuh dan efisien sampai tahap pasca panennya. Sebagai contoh petani dapat memperoleh dan penerapan teknologi produktivitas organik hayati (misal : Bio P 2000 Z), benih/pupuk bermutu dan mekanisasi pasca panen dan sekaligus pengawalan pendampingannya.

Tingkat kesuburan lahan pertanian produktif terus menurun; revolusi hijau dengan mengandalkan pupuk dan pestisida memiliki dampak negatif pada kesuburan tanah yang berkelanjutan dan terjadinya mutasi hama dan pathogen yang tidak diinginkan. Sebagai contoh lahan yang terus dipupuk dengan Urea (N) cenderung menampakkan respon kesuburan tanaman seketika, tetapi berdampak pada cepat habisnya bahan organik tanah karena memacu berkembangnya dekomposer dan bahan organik sebagai sumber makanan mikroba lain habis (< 1%). Pemakaian pupuk kimia, alkali dan pestisida yang terus menerus menyebabkan tumpukan residu yang melebihi daya dukung lingkungan yang jika tidak terurai akan menjadi “racun tanah” dan tanah menjadi “Sakit”. Akibatnya disamping hilangnya mikroba pengendali keseimbangan daya dukung kesuburan tanah, ketidak-seimbangan mineral dan munculnya mutan-mutan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) yang kontra produktif. Di lahan sawah/irigasi dengan berbagai upaya program revolusi hijau yang telah ada tidak lagi memberikan kontribusi pada peningkatan produktivitas karena telah mencapai titik jenuh (Levelling Off) dan produktivitas yang terjadi justru cenderung menurun.

Upaya yang harus dilakukan adalah melakukan Soil Management untuk mengembali-kan kesuburan tanah dengan memasukkan berbagai ragam mikroba pengendali yang mempercepat keseimbangan alami dan membangun bahan organik tanah, kemudian diikuti dengan pemupukan dengan jenis dan jumlah yang tepat dan berimbang serta teknik pengolahan tanah yang tepat. Telah diketahui bahwa mikro-organisme unggul berguna dapat diintroduksikan ke tanah dan dapat diberdayakan agar mereka berfungsi mengendalikan keseimbangan kesuburan tanah sebagaimana mestinya. Selain itu, sekumpulan mikro-organisme diketahui menghuni permukaan daun dan ranting. Sebagian dari mereka ada yang hidup mandiri, bahkan dapat menguntungkan tanaman (Mashar, 2000). Prinsip-prinsip hayati yang demikian telah diungkapkan dalam kaidah-kaidah penerapan pupuk hayati (misal : Bio P 2000 Z).

Eksplorasi potensi genetik tanaman yang masih belum optimal tampak pada kesenjangan hasil petani dan hasil produktivitas di luar negeri atau hasil dalam penelitian. Dalam hal ini teknologi pemuliaan telah mengalami kemajuan yang cukup berarti dalam menciptakan berbagai varietas unggul berpotensi produksi tinggi. Meskipun upaya breeding modern, teknologi transgenik dan hibrida dirancang agar tanaman yang dikehendaki memiliki kemampuan genetik produksi tinggi (Gurdev S Kush, 2002), tetapi jika dalam menerapkannya di lapangan asal-asalan, maka performa keunggulan genetiknya tidak nampak. Hasil penggunaan varietas unggul di lapangan seringkali masih jauh dari harapan. Penyebabnya adalah masih belum dipahaminya teknik budidaya sehingga hasil yang didapat belum menyamai potensinya, apalagi melebihi.

Untuk mendapatkan performa hasil maksimal dari tanaman unggul baru yang diharapkan memerlukan persyaratan-persyaratan khusus “Presisi” dalam budidayanya seperti kesuburan lahan, pemupukan, mengamankan dari OPT (Anonim, 2003) dan/atau perlakuan spesifik lainnya. Pada kenyataannya baik tanaman unggul seperti padi VUB, Hibrida dan PTB; dan kedelai serta Jagung hibrida akan mampu berproduksi tinggi jika pengawalan manajemen budidayanya dipenuhi dengan baik, tetapi jika tidak justru terjadi sebaliknya. Hasilnya lebih rendah dari varietas lokal. Hal ini berarti bakal calon penerapan varietas unggul berproduktivitas tinggi harus dilakukan pengawalan dan manajemen teknologi penyerta dengan baik dan diterapkan secara paripurna. Untuk hal tersebut petani harus diberikan dampingan dan memanejemen budidaya secara intensif.

Upaya Menambah Perluasan Lahan Pertanian Baru

Sulitnya melakukan peningkatan produksi pangan nasional antara lain karena pengembangan lahan pertanian pangan baru tidak seimbang dengan konversi lahan pertanian produktif yang berubah menjadi fungsi lain seperti permukiman. Lahan irigasiIndonesiasebesar 10.794.221 hektar telah menyumbangkan produksi padi sebesar 48.201.136 ton dan 50 %-nya lebih disumbang dari pulau Jawa (BPS, 2000). Akan tetapi mengingat padatnya penduduk di pulau Jawa keberadaan lahan tanaman pangan tersebut terus mengalami degradasi seiring meningkatnya kebutuhan pemukiman dan pilihan pada komoditi yang memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi seperti hortikultura. Jika tidak ada upaya khusus untuk meningkatkan produktivitas secara nyata dan/atau membuka areal baru pertanian pangan sudah pasti produksi pangan dalam negeri tidak akan mampu mencukupi kebutuhan pangan nasional.

Dari sisi perluasan areal lahan tanaman pangan ini upaya yang dapat ditempuh adalah: (1) Memanfaatkan lahan lebak dan pasang surut termasuk di kawasan pasang surut (Alihamsyah, dkk, 2002) (2) Mengoptimalkan lahan tidur dan lahan tidak produktif di pulau Jawa. Kedua pilihan di atas mutlak harus di barengi dengan menerapkan teknologi produktivitas mengingat sebagian besar lahan tersebut tidak subur untuk tanaman pangan.

Luas lahan pasang surut dan Lebak di Indonesia diperkirakan mencapai 20,19 juta hektar dan sekitar 9,5 juta hektar berpotensi untuk pertanian serta 4,2 juta hektar telah di reklamasi untuk pertanian (Ananto, E.,2002). Memanfaatkan lahan lebak dan Pasang Surut dipandang sebagai peluang terobosan untuk memacu produksi meskipun disadari bahwa produktivitas di lahan tersebut masih rendah. Produktivitas rata-rata tanaman pangan padi, Jagung dan Kedelai di lahan lebak/pasang surut dengan penerapan teknologi konvensional hasilnya masih rendah yaitu : secara berturut turut sekitar 3,5 ton/ha; 2,8 ton/ha dan 0,8 ton/ha. Kendala utama pengembang di lahan ini adalah keragaman sifat fisiko-kimia seperti pH yang rendah, kesuburan rendah, keracunan tanah dan kendala Bio fisik seperti pertumbuhan gulma yang pesat, OPT dan cekaman Air (Moeljopawiro, S., 2002)

Ditemukannya teknologi baru (misalnya Bio P 2000 Z) dengan memanfaatkan mikroba penyubur dan pengendali kesuburan alami tanah di lahan lebak dan pasang surut memberikan bukti bahwa produktivitas tanaman pangan tersebut mampu lebih tinggi dibanding produktivitas konvensional di lahan subur atau produktivitas rata-rata nasional yaitu: 5,5 – 8 ton/ha padi; 2,5 – 3,5 ton/ha kedelai dan 5 – 8 ton/ha jagung JPK). Ternyata dengan sistem demikian masalah tersumbatnya produksi komoditi pertanian dapat dipecahkan. Efek mikroba memiliki manfaat yang besar dalam mengendalikan lingkungan mikro tumbuh kembang tanaman yang secara sinergi memberikan manfaat: (1) diredamnya faktor penghambat tumbuh kembang tanaman yang dijumpai dalam tanah termasuk menetralkan kemasaman lahan, (2) adanya produksi senyawa bio-aktif seperti enzim, hormon, senyawa organik, dan energi kinetik yang memacu metabolisme tumbuh kembang akar dan bagian atas tanaman (3) pasok dan penyerapan hara oleh akar makin efesien, lancar, dan berimbang, (4) ketahanan internal terhadap hama dan penyakit meningkat. Budidaya dengan menerapkan teknologi ini secara baik di lahan jenis tersebut mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi sehingga usaha tani pangan di lahan tersebut akan dapat bersaing. Menjadikan lahan lebak dan pasang surut untuk usaha pertanian harus didukung dengan teknologi dan infrastruktur yang memadai sehingga luasan lahan ini dapat menjadi pendukung dan buffer untuk peningkatan produksi pangan dan swasembada.

Lahan kering diIndonesiasebesar 11 juta hektar yang sebagian besar berupa lahan tidur dan lahan marginal sehingga tidak produktif untuk tanaman pangan. Di Pulau Jawa yang padat penduduk, rata-rata pemilikan lahan usaha tani berkisar hanya 0,2 ha/KK petani. Namun, banyak pula lahan tidur yang terlantar.Ada300.000 ha lahan kering terbengkelai di Pulau Jawa dari kawasan hutan yang menjadi tanah kosong terlantar. Masyarakat sekitar hutan dengan desakan ekonomi dan tuntutan lapangan kerja tidak ada pilihan lain untuk memanfaatkan lahan-lahan kritis dan lahan kering untuk usaha tani pangan seperti jagung, padi huma dan kedelai serta kacang tanah. Secara alamiah hal ini membantu penambahan luas lahan pertanian pangan, meskipun disadari bahwa produktivitas di lahan tersebut masih rendah, seperti jagung 2,5 – 3,5 ton/ha dan padi huma 1,5 ton/ha dan kedelai 0,6 – 1,1 ton/ha, tetapi pemanfaatannya berdampak positif bagi peningkatan produksi pangan.

Melihat kenyataan di atas maka solusi terbaik adalah: (1) pemerintah sebaiknya memberikan ijin legal atas hak pengelolaan lahan yang telah diusahahan petani yaitu semacam HGU untuk usaha produktif usaha tani tanaman pangan sehingga petani dapat memberikan kontribusi berupa pajak atas usaha dan pemanfaatan lahan tersebut, (2) memberikan bimbingan teknologi budidaya khususnya untuk menerapkan teknologi organik dan Bio/hayati guna meningkatkan kesuburan lahan dan menjamin usaha tani yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dan (3) Melibatkan stakeholder dan swasta yang memiliki komitmen menunjang dalam sistem Agribisnis tanaman pangan sehingga akan menjamin kepastian pasar, Sarana Input teknologi produktivitas dan nilai tambah dari usaha tani terpadunya. Pengelolaan lahan kering untuk pertanian dapat dilakukan dengan menerapkan teknologi produktivitas organik agar memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan produksi pangan dan kesejahteraan masyarakat. Sebagai contoh jika 150.000 ha lahan ini digunakan untuk budidaya Jagung jika dengan tambahan teknologi produktivitas organik dapat menghasilkan rata-rata 6,5 ton/ha yang dilakukan dengan 2 kali MT maka akan terjadi penambahan produksi sebesar: 1,95 juta ton jagung, berarti akan mensubstitusi lebih dari 60% impor Jagung. Multiple effek dari usaha tani tanaman pangan ini sangat berarti dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani dan masyarakat sekitar dan bagi kepentingan nasional.

Mencapai Swasembada Pangan 2003 – 2010 Untuk Mewujudkan Kemandirian Dan Ketahanan Pangan Nasional

Membangun Ketahanan pangan berbasis Agribisnis pangan rakyat di Indonesia perlu mendapatkan perhatian serius. Pada tahun 1984 swasembada pangan pernah tercapai yang diukir sebagai prestasi gemilang saat itu, namun tahun-tahun selanjutnya semakin merosot sehingga upaya-upaya mempertahankan dan mencukupi kebutuhan pangan nasional semakin terancam. Proyek pembukaan lahan pertanian sejuta hektar lahan gambut di Kalimantan Tengah, implementasi BIMAS, INSUS, SUPRA INSUS; tampaknya tidak memberikan manfaat bahkan dalam dasawarsa terakhir kita terjebak dalam kesejangan pangan dan dengan produksi pangan nasional semakin terancam dan impor pangan dijadikan sebagai solusi instan. Seharusnyalah dibangun kembali kerangka pembangunan pertanian berkerakyatan dan berorientasi kemandirian dan kesejahteraan yang merata di dalam sistem agribisnis yang terpadu. Masalah penyediaan pangan untuk penduduk harus dipandang secara utuh, bukan sekedar dinilai secara untung rugi saja tetapi lebih jauh dicermati pada aspek politik, dan sosialnya karena di dalam pandangan nasional ketahanan pangan harus merupakan bagian dari ketahanan nasional.

Menempatkan pangan sebagai bagian menempatkan kepentingan rakyat, bangsa dan negara serta rasa nasionalisme untuk melindungi, mencintai dan memperbaiki produksi pangan lokal harus terus dikembang-majukan. Pertanian pangan termasuk di kawasan transmigrasi hendaknya jangan dipandang sebagai lahan untuk menyerap tenaga kerja atau petani dikondisikan untuk terus memberikan subsidi bagi pertumbuhan ekonomi sektor lain dengan tekanan nilai jual hasil yang harus rendah dan biaya sarana produksi terus melambung. Tetapi seharusnya petani pangan mendapatkan prioritas perlindungan oleh pemerintah melalui harga jual dan subsidi produksi karena petani membawa amanah bagi ketahanan pangan, petani pangan perlu mendapatkan kesejahteraan yang layak. Dalam hal ini adalah wajar jika pemerintah berpihak kepada petani dan pelaku produksi pertanian pangan karena merupakan golongan terbesar dari masyarakatIndonesia .

Kebijakan Impor pangan yang menonjol sebagai program instant untuk mengatasi kekurangan produksi justru membuat petani semakin terpuruk dan tidak berdaya atas sistem pembangunan ketahanan pangan yang tidak tegas. Akibat over suplai pangan dari impor seringkali memaksa harga jual hasil panen petani menjadi rendah tidak sebanding dengan biaya produksinya sehingga petani terus menanggung kerugian. Hal ini menjadikan bertani pangan tidak menarik lagi bagi petani dan memilih profesi lain di luar pertanian, sehingga ketahanan pangan nasional mejadi rapuh.

Melihat kondisi saat ini dan trend produksi pangan yang semakin tergantung impor dan bergesernya pola konsumsi masyarakat maka untuk mencapai kemandirian pangan ke depan harus dilakukan melalui upaya-upaya terpadu secara terkonsentrasi pada peningkatan produksi pangan nasional yang terencana mulai “presisi” di sektor hulu – proses (on farm) dan hilirnya. Yang perlu ditekankan adalah: peningkatan produktivitas dan penerapan teknologi bio/hayati organik, perluasan areal pertanian pangan dan optimalisasi pemberdayaan sumber daya pendukung lokalnya, kebijakan tataniaga pangan dan pembatasan impor pangan, pemberian kredit produksi dan subsidi bagi petani pangan, pemacuan kawasan sentra produksi dan ketersediaan silo untuk stock pangan sampai tingkat terkecil dalam mencapai swasembada pangan di setiap daerah. Untuk itu pemacuan peningkatan produksi pangan nasional harus ditunjang dengan kesiapan dana, penyediaan lahan, teknologi, masyarakat dan infrastrukturnya yang dijadikan sebagai kebijakan ketahanan pangan nasional.

Padi

Dalam kurun waktu satu dasa warsa ke depanIndonesiaharus mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangan bagi masyarakat-nya. Tabel 2 menggambarkan keragaan pemacuan produksi dan pengurangan impor padi yang dipandang rasional.

Dengan asumsi pertumbuhan penduduk rata-rata per tahun 1,5 % dan impor beras sekitar 1,5 – 2 juta ton pada tahun 2003 dan produksi dalam negeri sekitar 52 juta ton, maka untuk mencapai swasembada pada tahun 2010 diperlukan trend peningkatan produksi sebesar 1,8 – 2,1 % pertahun. Peningkatan ini sangat rasional dan dapat dilakukan dengan melihat potensi produk-tivitas yang dapat ditingkatkan dan potensi ketersediaan lahan baru yang dapat dibuka seperti lahan pasang surut, lebak dan lahan kering untuk padi (Suprihatno, dkk, 1999; Irianto, Gatot, dkk., 2002).

Jagung

Pada tahun 2002 impor jagung mencapai 2,2 juta ton dan sejak tahun 2000 pertumbuhan produksinya menunjukkan trend yang cenderung negatif. Melihat potensi yang ada bahwa hal upaya memacu produksi jagung dalam 10 tahun kedepan masih dapat dilakukan, bahkan sekalipun untuk dapat mencapai surplus (ekspor). Dengan menciptakan tingkat pertumbuhan produksi 2 % sampai 6,5 %per tahun maka pada tahun 2010Indonesiaakan dapat mengekspor jagung. Hal ini sangat rasional untuk dapat diwujudkan dan dicapai mengingat masih banyak lahan tidur dan lahan kering potensial yang dapat dimanfaatkan secara optimal untuk dapat meningkatkan produksi jagung. Peluang penerapan teknologi produktivitas Bio hayati organic dan penerapan benih hibrida untuk meningkatkan produktivitas dari rata-rata 3,5 ton/ha menjadi lebih dari 6,5 ton/ha di lahan tersebut masih sangat rasional apalagi agribisnis jagung telah didukung dengan tersedia dan kesiapan stakeholder dari hulu sampai hilirnya.

Kedelai

Upaya mendongkrak produksi kedelai memang berat mengingat ada sekitar 70 % kebutuhan kedelai dipenuhi dari impor. Terus membanjirnya impor kedelai tahun 2000 memiliki dampak yang tragis bagi petani kedelai dan untuk dapat mencapai imbangan impor harus ada perlakuan khusus dengan mengembalikan kepercayaan petani kembali bertanam kedelai. Upaya perimbangan impor dan pertumbuhan produksi kedelai jika produksi dapat terus ditingkatkan secara linear dari 13 % di tahun 2003 terus tumbuh meningkat hingga 20 % pada tahun 2010. Selama dasawarsa ke depan (2003 – 2013), yang rasional dilakukan adalah menekan impor dengan substitusi dari produksi dalam negeri sampai tinggal 10 – 20 % impor. Hal ini relevan dengan kondisi saat ini dan dapat terjadi jika ada pengaturan tata niaga untuk kepastian harga yang layak saat petani panen raya dan menciptakan produktivitas kedelai yang tinggi sehingga menurunkan biaya produksinya per satuan hasil.

Menerapkan kebijakan tata niaga kedelai, pembatasan impor (tarif bea masuk) dan insentif/subsidi bagi petani produsen dipandang perlu pada komoditas ini karena merupakan komoditi hajat hidup orang banyak (Inkopti, 2001), jika memang keputusan kemandirian pangan sebagai keputusan politik untuk ketahanan pangan. Persoalan teknologi produktivitas kedelai dan lahan sebenarnya bukan lagi sebagai permasalahannya, hanya saja jika petani tidak diberikan subsidi teknologi, produktivitasnya tetap rendah (< 1,2 ton/ha) dan biaya produksi per satuan produk menjadi tinggi sehingga ke depannya tidak dapat bersaing dipasaran bebas. Upaya ini perlu dilakukan dengan dengan menerapkan kebijakan yang simultan untuk merangsang pertumbuhan tinggi baik dengan melibatkan stakeholder pelaku bisnis kedelai dari hulu hingga hilir, teknologi, petani, perbankan dan pemerintah.

Harus diciptakan kondisi yang kondusif untuk memberikan perlindungan pada petani. Menciptakan dan mewujudkan kemandirian pangan nasional agar lebih ditekankan pada peran petani serta stakeholder yang mengawal sistem produksi dari keterjaminan penyediaan teknologi, sarana produksi hingga industri hilirnya. Fasilitas kebijakan yang memberikan kemudahan petani pangan mendapatkan subsidi teknologi, mekanisasi dan fasilitasi penunjang budidaya (seperti infrastruktur untuk pertanian seperti irigasi dan jalan, dan kredit produksi), perlindungan pasar serta kebijakan impor terbatas diperlukan untuk kembali menggairahkan pertanian pangan. Dalam hal ini perlu adanya rencana dan pedoman yang jelas dan sistematis sebagai komitmen bagi stakeholder khususnya dari pemerintah melalui Departemen Pertanian dan departemen terkait dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional yang tangguh sebagai keputusan nasional yang didukung oleh pemerintah daerah sebagai pelaksana di lapangan.

Upaya menciptakan kemandirian pangan dengan mengembangkan produksi sumber pangan alternatif substitusi pangan impor dilakukan seiring dengan pemacuan tiga komoditi pangan utama di atas. Sumber pangan karbohidrat yang dapat dimanfaatkan untuk substitusi pangan impor seperti kentang, jagung putih dan umbi-umbian. Mengembangkan sumber pangan alternatif ini justru memiliki nilai ekonomis tinggi karena disamping produktivitas per hektarnya tinggi, pangan tersebut sebagai bahanbakuindustri. Dengan keragaman sumber bahan pangan yang dikonsumsi dan dapat diproduksi di dalam negeri diharapkan dapat menekan impor pangan secara nyata dan mengurangi ketergantungan pangan dari luar negeri sehingga ketahanan dan kemandirian pangan nasional semakin mantap.

Peran Teknologi Produktivitas Organik Dalam Menunjang Ketahanan Pangan Yang Berkelanjutan

Subsidi teknologi yang menjadi bagian penting dari upaya menciptakan ketahanan pangan yang tangguh, harus mengutamakan teknologi produktivitas yang ramah lingkungan. Teknologi tersebut harus telah terbukti memberikan kontribusi yang nyata bagi peningkatan produktivitas dan teruji bukan hanya untuk meningkatkan produktivitas tanaman pangan tetapi juga mampu menjaga kelestarian produksi dan ramah lingkungan. Disamping itu teknologi yang diterapkan harus bersifat sederhana, mudah dimengerti dan dilaksanakan petani sehingga dapat diterapkan di lapangan secara utuh dan memiliki kawalan/pendampingan di lapangan untuk menjamin keberhasilannya.

Sebagai contoh teknologi pupuk hayati Bio P 2000 Z yang diramu dari kumpulan mikro-organisme indegenus terseleksi bersifat unggul berguna yang dikondisikan agar dapat hidup harmonis bersama saling bersinergi dengan kultur mikro-organisme komersial serta dibekali nutrisi dan unsur hara mikro dan makro yang berguna bagi mikroba dan komoditas budidaya. Sekumpulan mikro-organisme unggul berguna dikemas dalam pupuk hayati Bio Perforasi terdiri dari dekomposer (Hetrotrop, Putrefaksi), pelarut mineral dan phospat, fiksasi nitrogen, Autotrop (fotosintesis) dan mikroba fermentasi serta mikroba penghubung (seperti Mycorrhiza) yang bekerja bersinergi dan nutrisi bahan organik sederhana, seperti senyawa protein/peptida, karbohidrat, lipida, Vitamin, senyawa sekunder, enzim dan hormon; serta unsur hara makro: N, P, K, S, Ca, dan lainnya berkombinasi dengan hara mikro: seperti Mg, Si, Fe, Mn, Zn, Mn, Mo, Cl, B, Cu, yang semua unsur yang disebut di atas diproses melalui cara fermentasi.

Bio Perforasi secara komprehenship membentuk dan mengkondisikan keseimbangan ekologis alamiah melalui sekumpulan jasa mikro-organisme unggul berguna yang dikondisikan, bersinergi dengan mikroba alami indogenus dan nutrisi; dan dengan menggunakan prinsip “mem-bioperforasi“ secara alami oleh zat inorganik, organik dan biotik pada mahluk hidup (seperti tanaman) sehingga memacu dan/atau mengendalikan pertumbuhan dan produksinya. Ternyata dengan sistem demikian masalah tersumbatnya produksi komoditi pertanian dapat dipecahkan (Mashar, 2000).

Melalui jasa mikro-organisme unggul yang sebelumnya telah dikondisikan terhadap lingkungan tumbuh kembang tanaman serta dibekali nutrisi dan unsur hara, faktor pembatas produksi dan kendala tumbuh asal tanah dan lingkungan dapat direndam sehingga tanaman dapat dipacu berproduksi tanpa menggangu hasil rekayasa konstelasi genetik yang telah dimiliki tanaman sebelumnya. Hal ini seiring dengan tujuan meningkatkan produktivitas hasil dari tanaman varietas unggul yang memiliki potensi genetik tinggi seperti padi Hibrida, PTB dan padi unggul lain yang akan dikembangkan untuk daerah-daerah kritis lebak rentan cekaman kesuburan tanah yang labil. Seperti daerah transmigrasi Penggunaan mikroba Bio P 2000 Z secara teratur dan sesuai anjuran ternyata mampu mendongkrak potensi produksi tanaman yang bersangkutan melebihi referensi Genetik yang dimilikinya dan cekaman anasir penghambat dalam tanah.

Keunggulan penerapan teknologi Bio Perforasi pada padi adalah meningkatnya produktivitas dan kualitas beras. Pada padi unggul nasional memacu bertambahnya anakan produktif rata-rata 19 – 35 anakan dan kuatnya perakaran (gambar A), tahan rebah dan serangan penggerek batang; malai lebih besar (berisi) sehingga dibanding tanpa Bio P2000Z pada volume gabah kering giling (GKG) yang sama rendemen meningkat 30% – 40%. Karena proses keseimbangan hara ini beras lebih jernih dan tidak mudah remuk/patah saat digiling.

Kesimpulan

 

1. Laju pertumbuhan produksi pangan nasional dalam dasa warsa terakhir rata-rata cenderung terus menurun sedangkan laju pertumbuhan jumlah penduduk terus meningkat yang berarti semakin meningkat ketergantungan pangan nasional pada impor merupakan bahaya laten bagi kemandirian dan ketahanan pangan nasional.

2. Produksi pangan yang terus menurun lebih disebabkan karena: produktivitas hasil budidaya petani rata-rata masih rendah dan perluasan areal lahan pertanian stagnan serta lahan yang ada cenderung menurun kualitasnya sehingga perlu upaya mengatasi permasalahan tersebut dengan terobosan yang konstruktif dalam produktivitas dan perluasan lahan.

3. Meningkatkan produktivitas dapat ditempuh melalui cara antara lain: menerapkan teknologi budidaya produktivitas tinggi dengan memberikan subsidi teknologi kepada petani seperti teknologi pupuk hayati Bio P 2000 Z; melakukan Soil Management di lahan pertanian dengan mengintroduksikan agen mikroba penyubur dan nutrisi (seperti pupuk berimbang) untuk mengembalikan keseimbangan alami yang membangun kesuburan tanah dan tanaman diatasnya; melakukan eksplorasi potensi genetik tanaman yang memiliki performa tanaman unggul hasil maksimal seperti varietas hibrida dan tipe baru dengan memberikan perlakuan presisi kawalan teknologi yang sesuai sehingga efisiensi hasil maksimal dapat tercapai .

4. Upaya memacu pertumbuhan produksi pangan dengan membuka areal Lahan pertanian baru yang dapat di gunakan untuk pertanian produktif adalah potensi lahan pasang surut dan lahan lebak, serta lahan kering yang sebagian besar belum tergarap secara optimal dengan disertai penerapan teknologi produktivitas.

5. Untuk mewujudkan swasembada dan kemandirian serta ketahanan pangan dalam satu dasawarsa ke depan (2010), diperlukan perangkat kebijakan yang mengarah pada perbaikan implementasi sistem agribisnis dan tataniaga (impor) bahan pangan. Disamping itu laju pertumbuhan produksi nasional harus dipacu pertahun secara bertahap, pada komoditas padi/beras dari tahun 2003 sebesar 1,8 % menjadi 2,1% pada tahun 2010, komoditas jagung dari 2 % tahun 2003 menjadi 6,5 % tahun 2010, dan kedelai 13 % tahun 2003 terus meningkat menjadi 20 % pada tahun 2010.

6. Penerapan teknologi organik seperti Bio P 2000 Z yang memanfaatkan sinergi jasa mikroba unggul mampu meningkatkan produktivitas tanaman lebih tinggi dari teknologi pupuk konvensional/kimia dan memiliki manfaat memperbaiki kesuburan lahan serta menjaga produktivitas tinggi lahan yang berkelanjutan.

KONTES SAPI SONOK DALAM UPAYA MELESTARIKAN BUDAYA LOKAL DI ERA GLOBAL

Posted in Uncategorized on January 25, 2012 by opick_agribisnistrunojoyo

KATA PENGANTAR 

                        Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat,Taufik dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan tugas Pekan Kreatifitas Mahasisa (PKM) ini. Shalawat dan salam senantiasa kami haturkan kepada Rasulullah SAW yang telah berhasil dan sukses membawa manusia dari alam jahiliyah menuju alam islamiyah.

                        Dalam penyusunan Pekan Kreatifitas Mahasisa (PKM) penulis menyampaikan terima kasih kepada bapak ihsanuddin selaku dosen Pembina mata kuliah “ Berfikir ilmiah “yang telah membimbing dan mengarahkan kami.

                        Semoga Allah membalas jasa baiknya dan penulis menyadari bahwa dalam penulisan Pekan Kreatifitas Mahasiswa (PKM) ini masih terdapat kesalahan, tapi hanya inilah hasil optimal dan pemikiran penulis. Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran yang konstruktif dari pembaca demi sempurnanya penulisan dimasa yang akan datang.

Bangkalan,      Oktober  2011

Penulis,

KONTES SAPI SONOK DALAM UPAYA MELESTARIKAN BUDAYA LOKAL DI ERA GLOBAL

 

Oleh: Musfiqur Rahman

Jurusan agribisnis

Fakultas Pertanian

Universitas Trunojoyo

 

RINGKASAN

Madura merupakan pulau yang kaya akan budaya tradisional. Oleh karena itu, dalam program kreatifitas mahasiswa ini penulis mengusulkan gagasan yang berjudul “Kontes Sapi Sonok dalam Upaya Melestarikan Budaya Lokal di Era Globalisasi”sebagai salah satu wujud dalam upaya melestarikanbudaya lokal yang mulai kuncup di era glabalisasi ini. Maka dari itu penulis mempunyai inisiatif untuk mengusulkan sebuah  gagasan dalam upaya mempertahankan  budaya tradisional  yang ada di pulau Madura di era globalisasi ini.

Madura merupakan salah satu pulau yang kaya akan budaya tradisional, yang mampu menarik wisatawan lokal maupun wisatawan asing, salah satunya adalah kontes sapi sonok, kontes sapi sonok adalah sebuah perayaan yang biasanya di selenggarakan setelah pasca panen tembakau, hal ini merupakan salah satu wujud masyarakat madura dalam mempertahankan budaya lokal yang mulai kuncup di era globalisasi ini.

Kontes sapi sonok ini merupakan perayaan yang sudah menjadi tradisi tahunan di pulau madura. Masyarakat madura biasanya menyelenggarakan kontes ini  untuk mengawali acara pesta rakyat karapan sapi.

BAB I
PENDAHULUAN
A.     LATAR BELAKANG

Sapi Sonok berasal dari bahasa Madura yaitu dari kata “srono” atau “nyono” yang berarti masuk. Masuk di sini adalah berkaitan dengan awal mula budaya ini, yang kerap digunakan menyambut tamu yang datang di rumah warga Madura. Jadi secara budaya, Sapi Sonok adalah sebuah simbol kesopanan dalam bertingkah laku. Karena simbol dan makna itulah, sejak sekitar tahun 1970-an di Madura, Sapi Sonok mulai digunakan sebagian masyarakat untuk penyambutan tamu dalam berbagai acara. Misalnya pada acara pernikahan, ataupun khitanan, Selain menjadi wadah untuk mempererat hubungan sosial, Sapi sonok juga memiliki makna budaya dan tehnologi, jika ditinjau dari aspek budaya, kontes sapi sonok ini menggambarkan sebuah hasil kreasi masyarakat Madura yang menjadi kebanggaan tersendiri. Sedangkan dari aspek tehnologi, lahirlah tehnologi untuk membibitkan sapi yang berkualitas dan menjaga kelestarian spesies sapi Madura.

B.     RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana cara kita untuk menjaga kelestarian budaya sapi sonok di era globalisasi ini?
  2. Apa yang harus dilakukan pemerintah agar budaya sapi sonok di Madura tetap terjaga kelestariannya?
C.     TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan penulisan gagasan yang ingin dicapai oleh penulis adalah:

  1. Memberikan pandangan kepada pembaca tentang pentingnya melestarikan budaya lokal di era globalisasi
  2. Memberikan ilmu pengetahuan tentang pelestarian budaya sapi sonok di era globalisasi

Manfaat dari penulisan gagasan ini adalah sebagai berikut :

  1. Memberikan pencerahan kepada pembaca tentang pentingnya melestarikan budaya sapi sonok di era global
  2. Memberikan ilmu pengetahuan kepada pembaca tentang kontes sapi sonok sebagai salah satu upya melestarikan budaya lokal di era globalisasi
BAB II
PEMBAHASAN
A.     KONTES SAPI SONOK

Madura merupakan salah satu pulau yang mempunyai keunikan tradisi atau budaya yang mampu mengundang wisatawan lokal maupun asing. Selain karapan sapi pulau  Madura juga memiliki aset budaya “Sapi Sonok”. Sapi sonok merupakan dua ekor sapi betina yang dihiasi dan dipercantik sedemikian rupa untuk di perlombakan.Sapi Sonok merupakan sapi yang berjenis kelamin betina.Dalam kontes sapi sonok kriteria penilaiannya adalah keindahan sapi saat berjalan dan berpakaian. Kontes Sapi Sonok tersebut diadakan sebagai upaya untuk memperkenalkan tradisi Sapi Sonok ke masyarakat luas, serta untuk menjaga kelestarian budaya sapi sonok di era globalisasi.

Selain sebagai tradisi tahunan, kontes sapi sonok juga menjadi salah satu objek wisata musiman di pulau Madura, hal ini menjadikan pulau Madura sebagai pulau pariwiasata dalam bidang kebudayaan. Menurut D. Zawawi Imron mengatakan bahwa Budaya sapi sonok dinilai sebagai upaya untuk menjauhkan masyarakat dari unsur penganiayaan terhadap hewan. Kontes sapi sonok adalah salah satu upaya masyarakat Madura untuk menjaga kelestarian nenek moyang yang sudah menjadi tradisi turun-temurun di pulau Madura, selain itu kontes sapi sonok juga mampu mempersatukan hubungan sosial dikalangan masyarakat Madura serta sebagai bahan hiburan yang mampu mengundang wisatawan untuk  menyaksikan keunikan budaya pulau Madura.

  • sosial

Sapi sonok merupakan salah satu wadah untuk mempererat tali silaturrahmi di kalangan masyarakat Madura. Hal ini menjadi salah satu figureatau gambaran ke masyarakat umum bahwa masyarakat Madura mampu untuk menciptakan budaya kerukunan dan menjadi salah satu bukti kepada masyarakat bahwa masyarakat Madura adalah masyarakat yang cinta akan perdamaian

MAKALAH tentang POSITIF THINKING

Posted in Uncategorized on January 25, 2012 by opick_agribisnistrunojoyo

Alhamdulillah puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat,Taufik dan Hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini.

                        Shalawat dan salam senantiasa kami haturkan kepada Rasulullah SAW yang telah berhasil dan sukses membawa manusia dari alam jahiliyah menuju alam islamiyah.

                        Dalam penyusunan makalah ini penulis menyampaikan terima kasih kepada dosen Pembina mata kuliah “ Pengatar Iptek “ oleh Bapak Agus salim yang telah membimbing dan mengarahkan kami.

                        Semoga ALLAH SWT membalas jasa baiknya dan penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat kesalahan.tapi hanya inilah hasil optimal dan pemikiran penulis.Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran yang konstruktif dari pembaca demi sempurnanya penulisan dimasa yang akan datang.

                        Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi penulis khususnya dan para pembaca pada umumnya.Hanya kepada Allah jualah penulis memohon dan berserah diri,Amin ya robbal ‘alamin

Bangkalan,12 Oktober 2011

Penulis,

 

 

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………………………  i

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………  ii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………. iii

BAB I     PENDAHULUAN ………………………………………………………………………  1

1.Latar Belakang Masalah ……………………………………………………………..  1

               2.Rumusan Masalah……………………………………………………………………… 1

               3.Tujuan Masalah…………………………………………………………………………. 1

BAB II    PEMBAHASAN…………………………………………………………………………. 2

A. Pengertian positif thinking …………………………………………………………..  2

B. manfaat berpikir positif  ……………………………………………………………..  3

C. langkah – langkah agar selalu berpikir positif…………………………………. 5

D. cara mnerapkan konsep berpikir positif………………………………………. 5

BAB III   PENUTUP …………………………………………………………………………………  8

A.Kesimpulan …………………………………………………………………………….. 8

B.Saran……………………………………………………………………………………… 8

 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………. 9

 

BAB 1

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

            Selama kita hidup, baik secara sadar ataupun tidak, pkiran menjadi segala sesuatu dan kita menjadi pikiran kita. Penampilan luar kita merupakan refleksi dunia dalam diri kita. Kita menjadi apa yang kita pikirkan karena pikiran kita memberikan energy yang mewujudkan sesuatu yang kita ingin kita ciptakan. Dalam kehidupan kita mngenal positif thinking (berpikir positif),  dalam berpikir positif  (positif thinking) menggambarkan suatu sikap atau perilaku yang selalu posotif dalam menyikapi kehidupan ini.

            Berpikir positif membuat perbedaan besar dalam hidup kita. Karena sikap yang baik dimulai dari berpikir positif. Berpikir positif memiliki peran penting dalam pembentukan setiap individu. Kekuatan berpikir positif merupakan unsur terpenting dalam menentukan jenis kehidupan kita. Selanjutnya akan dibahas dalam makalah ini mengenai kajian tentang berpikir positif (positif thinking).

B.Rumusan Masalah

1.apakah yang dimaksud dengan berpikir positif ( positif thnking) ?

2.apa manfaat dari berpikir positif (positif thinking)?

3.apa saja langkah – langkah agar selalu berpikir positif ?

4.bagaimana cara menerapkan konsep berpikir positif dalam kehidupan?

C.Tujuan Masalah

  • Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan berpikir positif (positif thinking)
  • Untuk mengetahui manfaat dari berpikir posotif (positif thinking)
  • Agar kita dapat menerapkan cara berpikir positif dalam kehidupan ini

BAB II

PEMBAHASAN

Positif Thinking yang dalam bahasa pribuminya sama dengan berpikir positif adalah sebuah sikap atau prilaku, serta cara pandang seseorang yang selalu positif dalam mensikapi kehidupan ini.

            Positif Thinking hanyalah modal dasar seseorang dalam kehidupan, karena dengan semakin kompleknya masalah yang kita hadapi apabila hanya berpikir positif saja tidaklah cukup. Selanjutnya setelah berpikir positif kita harus positif Change atau berubah menjadi semakin baik.Dengan bersikap positif (Positif thinking) bukan berarti telah menjamin tercapainya suatu keberhasilan. Namun, bila sikap kita positif, setidak-tidaknya kita sudah berada di jalan menuju keberhasilan. Berhasil atau tidaknya kita nantinya ditentukan oleh apa yang kita lakukan di sepanjang jalan yang kita lalui tersebut.

Kehidupan dan kebahagiaan seseorang tidaklah bisa diukur dengan ukuran gelar kesarjanaan, kedudukan maupun latar belakang keluarga. Yang dilihat adalah bagaimana cara berpikir orang itu. Memang kesuksesan kita lebih banyak dipengaruhi oleh cara kita berpikir.

Dengan bersikap positif bukan berarti telah menjamin tercapainya suatu keberhasilan. Namun, bila sikap kita positif, setidak-tidaknya kita sudah berada di jalan menuju keberhasilan. Berhasil atau tidaknya kita nantinya ditentukan oleh apa yang kita lakukan di sepanjang jalan yang kita lalui tersebut.

Tidak semua orang menerima atau mempercayai pola berpikir positif. Beberapa orang menganggap berpikir positif hanyalah omong kosong, dan sebagian menertawakan orang-orang yang mempercayai dan menerima pola berpikir positif. Diantara orang-orang yang menerima pola berpikir positif, tidak banyak yang mengetahui cara untuk menggunakan cara berpikir ini untuk memperoleh hasil yang efektif. Namun, dapat dilihat pula bahwa semakin banyak orang yang menjadi tertarik pada topik ini, seperti yang dapat dilihat dari banyaknya jumlah buku, kuliah, dan kursus mengenai berpikir positif. Topik ini memperoleh popularitas dengan cepat.

            Dalam berpikir positif (positif thinking)  melibatkan proses memasukan pikiran-pikiran, kata-kata, dan gambaran-gambaran yang konstruktif(membangun) bagi perkembangan pikiran anda. Pikiran positif menghadirkan kebahagiaan, sukacita, kesehatan, serta kesuksesan dalam setiap situasi dan tindakan anda. Berpikir Positif diawali dengan sebuah keyakinan pada diri sendiri. Keyakinan bahwa dirinya mampu. Keyakinan yang mengatakan bahwa diri beliau “bisa”. Jika Anda melihat diri Anda “bisa”, maka Anda akan “bisa”. Jika Anda melihat diri Anda akan menghasilkan, maka Anda akan menghasilkan. Jika Anda tidak bisa melakukan hal seperti ini, maka Anda masih dikuasai oleh pikiran negatif.

Berpikir positif bukan merupakan tujuan melainkan suatu jalan untuk mencapai tujuan. Menjadikan berpikir positif sebagai tujuan memang membawa manfaat tetapi manfaat tersebut belumlah seberapa jika dibandingkan dengan manfaat yang didapat jika berpikir positif dijadikan sebagai suatu jalan.

Berikut manafaat dar berpikir positif (positif thinking) :

1. Mengatasi stres : Berpikir positif membantu Anda mengatasi situasi stres, mengabaikan pikiran negatif, mengganti pikiran pesimis menjadi optimis, mengurangi kecemasan dan mengurangi stres. Ketika Anda mengembangkan sikap positif Anda bisa mengontrol hidup Anda dengan baik.

2. Menjadi lebih sehat : Pikiran kita secara langsung mempengaruhi tubuh dan bagaimana cara bekerjanya. Ketika Ada mengganti pikiran negatif dengan ketenangan, kepercayaan dan kedamaian, bukannya dengan kebencian, kecemasan, dan kekhawatiran, maka Anda akan merasakan kesejahteraan. Dan ini berarti Anda tidak mengalami gangguan saat tidur, tidak merasakan ketegangan otot, kecemasan, dan kelelahan. Orang-orang yang berpikir negatif lebih muda terkena depresi.

3. Percaya diri : Dengan berpikir positif, maka Anda lebih percaya diri dan tidak untuk menciba menjadi orang lain. Jika Anda tidak percaya diri Anda tidak akan pernah mendaptkan kehidupan yang lebih baik.

4. Bisa mengambil keputusan yang benar : Berpikir positif mencegah Anda memilih keputusan yang salah atau melakukan hal yang bodoh yang kemudian Anda sesali. Berpikir positif membuat Anda memilih keputusan dengan cepat.

5. Meningkatkan fokus : Menggunakan pikiran positif membantu Anda lebih fokus saat menghadapi masalah. Jika Anda berpikir negatif akan membuang-buang waktu, dan energi Anda.

6. Bisa mengatur waktu lebih baik : Dengan meningkatnya fokus serta kemampuan membuat keputusan yang lebih baik, Anda akan lebih terorganisir. Ini akan membantu Anda mendapatkan lebih banyak waktu untuk diri sendiri dan orang yang Anda cintai.

7. Lebih sukses dalam hidup : Sikap positif tak hanya bisa meningkatkan fokus Anda dan lebih bisa mengatur waktu dengan baik tetapi mengarahkan Anda pada kebahagian dan keberhasilan saat m engubah hidup Anda.

8. Memiliki banyak teman : Ketika berpikir positif, Anda akan menarik perhatian orang-orang dan ketika orang-orang tersebut dekat dengan Anda mereka akan merasa nyaman.

9. Menjadi pemberani : Ketakutan berasal dari pikiran negatif. Menjadi pemikir positif menghilangkan rasa takut. Keberanian berasal dari kenyataan bahwa Anda tetap positif Anda akan tahu bahwa apapun yang terjadi dalam hidup Anda, Anda dapat menghadapinya.

10. Hidup lebih bahagia:  Percaya diri merupakan suatu fakta bahwa Anda bahagia menjadi diri Anda sendiri dan tidak mencoba untuk menjadi orang lain. Jika Anda memiliki semangat berpikir positif, Anda selalu mengantisipasi hidup bahagia, damai, tawa, kesehatan yang baik dan kesuksesan finansial.

Langkah – langkah agar selalu berpikir positif :

– Jadilah optimis dan mengharapkan hasil yang baik dalam segala situasi.

– Cari alasan untuk tersenyum lebih sering.

– Visualisasikan hanya apa yang Anda inginkan terwujud

– Libatkan diri Anda dalam kegiatan rekreasi menyenangkan.

– Baca dan kutipan yang inspirasional.

– Ikuti gaya hidup sehat. Olahraga setidaknya tiga kali seminggu.

–  Bergaulah dengan orang yang selau berpikir positif.

Belajar berpikir positif dapat kita lakukan dimana-mana, di setiap
langkah kehidupan yang harus kita lalui. Semakin kita mau belajar untuk berpikir positif dan tetap berusaha berpikir positif, maka itu sama artinya kita telah mengembangkan kualitas diri kita tanpa harus kita membuat kesalahan yang tidak perlu kita lakukan.

Bagaimanakah caranya agar seseorang dapat menerapkan konsep berpikir
positif dalam kehidupan?

Pada dasarnya, ada sejumlah point yang harus dipelajari :

1 . Belajarlah untuk berpikir kritis, dimana kita harus mempertimbangkan
adanya hal-hal yang membentuk suatu masalah dari berbagai sisi.
Contohnya : dengan tidak mudah menerima adanya informasi atau berita
yang tidak atau belum pasti kebenarannya. Pola berpikir kritis juga kita terapkan terhadap pendapat, tanggapan, atau pandangan orang lain, dimana sikap kritis tersebut bermanfaat untuk memberikan perbandingan apakah alur pemikiran kita sudah benar atau belum.

2. Sebelum bertindak atau mengambil keputusan, berpikirlah terlebih
dahulu. Jangan bertindak atau mengambil keputusan terlebih dahulu, baru
memikirkan kenapa kita bertindak atau membuat keputusan demikian.

3. Bersikaplah terbuka terhadap segenap pendapat atau masukan dari orang
lain. Dalam hal ini, kita harus selalu bersedia dikoreksi orang lain

4. Sebelum mengambil keputusan penting, bersikaplah hati-hati dan buatlah
perhitungan-perhitungan yang sesuai dengan logika atau cara berpikir
dengan nalar yang benar, untuk menghindari keluarnya sebuah keputusan
yang diambil secara gegabah.

5. Perluas wawasan dan asah terus kemampuan analisis kita terhadap
permasalahan yang ada sehingga kita tidak cepat menghadirkan prasangka
atau penilaian buruk pada orang lain atau pada situasi yang memerlukan
penilaian tepat dan benar.

6. Biasakan melakukan kegiatan check dan recheck untuk setiap informasi
yang kita ragukan kebenarannya.

7. Selalu menanamkan pikiran optimis dalam benak pikiran kita.

8. Berusahalah untuk tidak mempersulit orang lain, namun ajari orang lain
untuk dapat berpikir dengan cara-cara yang benar dalam mengambil
keputusan.

9. Selalu bersikap tenang pada saat ingin mengambil keputusan.

10. Sebelum mengambil keputusan, pertimbangkan segala sesuatunya dengan
seksama

11. Jangan kita selalu menganggap benar terhadap segala sesuatu yang kita
sukai, dan cepat menolak untuk setiap pendapat, saran, atau tanggapan
yang diberikan orang lain.

12.  Bersikaplah jujur pada diri sendiri, dengan belajar dari kesalahan,
mengakui adanya kekurangan serta kelebihan dalam diri kita, dan tidak
mudah terpancing oleh hal-hal praktis namun sesungguhnya kepraktisan
itu bukanlah konsep berpikir yang benar. Apabila semuanya itu bisa kita lakukan atau terapkan, maka kita telah melatih diri kita untuk selalu berpikir positif untuk setiap peristiwa yang harus kita hadapi dalam hidup ini, meskipun mood kita sedang tidak baik.

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

Berfikir positif merupakan hal yang penting bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Untuk menghadapi suatu permasalahan dalam hidup,bisa melihat diri dalam berbagai aspek khususnya dalam memecahkan permasalahan, namun berfikir positif juga perlu bahkan harus di dukung dengan usaha untuk berubah menjadi lebih baik.

Untuk  berfikir positif memerlukan langkah-langkah yang harus dilakukan dimana hal ini menjadi faktor pendukung  demi terciptanya seorang yang menjiwai  hal tersebut. Namun inilah hal yang perlu kita perhatikan sebagai berikut. Jadilah optimis,usahakan lebih sering tersenyum,libatkan diri anda dengan suasana yang menyenangkan

Berfikir positif bukan suatu tujuan melainkan suatu jalan untuk mencpai manfaat yang diantaranya,mengatasi stress,menjadi lebih sehat,percaya diri,bisa mengambil keputusan,bisa meningkatkan konsentrasi,bisa mengatur dengan baik,lebih sukses dalam hidup,memiliki banyak teman,menjadi pembrani dan hidup lebih baik.

SARAN

kami kira untuk menghadapi atau  menyelesaikan suatu permasalahan sebaiknya dengan cara berfikir positif karena hal itu   merupakan cara yang dapat mempermudah baik cara pandang atupun pemecahan masalah. Dimana hal ini banyak  memberikan manfaat dari berbagai aspek diantaranya adalah dapat merasa percaya diri, menjadi pemberani, bisa meningkatkan konsentrasi dan tentunya biasa lebih baik dan sukses.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.sabdaspace.org/berpikir_positif_sarlen

http://www.akuinginsukses.com/kekuatan-berpikir-positif/

http://blog.uin-malang.ac.id/mykingdom/2011/09/30/hidup-dengan-positif-thinking/

http://health.kompas.com/read/2011/08/06/10050416/Inilah.10.Keuntungan.Positive.Thinking.

http://www.didiksugiarto.com/2008/11/how-to-be-positif-thinking.html

MANFAAT BUDIDAYA RUMPUT LAUT

Posted in Uncategorized on January 23, 2012 by opick_agribisnistrunojoyo

A. Latar Belakang
Rumput laut (sea weeds) yang dalam dunia ilmu pengetahuan dikenal sebagai Algae sangat populer dalam dunia perdagangan akhir – akhir ini.
Rumput laut dikenal pertama kali oleh bangsa Cina kira – kira tahun 2700 SM. Pada saat itu rumput laut banyak digunakan untuk sayuran dan obat – obatan. Pada tahun 65 SM, bangsa Romawi memanfaatkannya sebagai bahan baku kosmetik. Namun dengan perkembangan waktu, pengetahuan tentang rumput lautpun semakin berkembang. Spanyol, Perancis, dan Inggris menjadikan rumput laut sebagai bahan baku pembuatan gelas.
Kapan pemanfaatan rumput laut di Indonesia tidak diketahui. Hanya pada waktu bangsa Portugis datang ke Indonesia sekitar tahun 1292, rumput laut telah dimanfaatkan sebagai sayuran. Baru pada masa sebelum perang dunia ke – 2, tercatat bahwa Indonesia telah mengekspor rumput laut ke Amerika Serikat, Denmark, dan Perancis.

Sekarang ini rumput laut di Indonesia banyak dikembangkan di pesisir pantai Bali dan Nusa Tenggara. Mengingat panjangnya garis pantai Indonesia (81.000 km), maka peluang budidaya rumput laut sangat menjanjikan. Jika menilik permintaan pasar dunia ke Indonesia yang setiap tahunnya mencapai rata – rata 21,8 % dari kebutuhan dunia, sekarang ini pemenuhan untuk memasok permintaan tersebut masih sangat kurang, yaitu hanya berkisar 13,1%. Rendahnya pasokan dari Indonesia disebabkan karena kegiatan budidaya yang kurang baik dan kurangnya informasi tentang potensi rumput laut kepada para petani.

B. Kandungan
Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah (Rhodophyceae) karena mengandung agar – agar, keraginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin) yang merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Tetapi ada juga yang memanfaatkan jenis ganggang coklat (Phaeophyceae). Ganggang coklat ini banyak mengandung pigmen klorofil a dan c, beta karoten, violasantin dan fukosantin, pirenoid, dan lembaran fotosintesa (filakoid). Selain itu ganggang coklat juga mengandung cadangan makanan berupa laminarin, selulose, dan algin. Selain bahan – bahan tadi, ganggang merah dan coklat banyak mengandung jodium.

C. Manfaat
1. Agar – agar
Masyarakat pada umumnya mengenal agar – agar dalam bentuk tepung yang biasa digunakan untuk pembuatan puding. Akan tetapi orang tidak tahu secara pasti apa agar – agar itu. Agar – agar merupakan asam sulfanik yang meruapakan ester dari galakto linier dan diperoleh dengan mengekstraksi ganggang jenis Agarophytae. Agar – agar ini sifatnya larut dalam air panas dan tidak larut dalam air dingin.

Sekarang ini penggunaan agar – agar semakin berkembang, yang dulunya hanya untuk makanan saja sekarang ini telah digunakan dalam industri tekstil, kosmetik, dan lain – lain. Fungsi utamanya adalah sebagai bahan pemantap, dan pembuat emulsi, bahan pengental, bahan pengisi, dan bahan pembuat gel. Dalam industri, agar – agar banyak digunakan dalam industri makanan seperti untuk pembuatan roti, sup, saus, es krim, jelly, permen, serbat, keju, puding, selai, bir, anggur, kopi, dan cokelat. Dalam industri farmasi bermanfaat sebagai obat pencahar atau peluntur, pembungkus kapsul, dan bahan campuran pencetak contoh gigi. Dalam industri tekstil dapat digunakan untuk melindungi kemilau sutera. Dalam industri kosmetik, agar – agar bermanfaat dalam pembuatan salep, krem, lotion, lipstik, dan sabun. Selain itu masih banyak manfaat lain dari agar – agar, seperti untuk pembuatan pelat film, pasta gigi, semir sepatu, kertas, dan pengalengan ikan dan daging.

2. Keraginan
Keraginan merupakan senyawa polisakarida yang tersusun dari unit D-galaktosa dan L-galaktosa 3,6 anhidrogalaktosa yang dihubungkan oleh ikatan 1 – 4 glikosilik. Ciri kas dari keraginan adalah setiap unit galaktosanya mengikat gugusan sulfat, jumlah sulfatnya lebih kurang 35,1%.
Kegunaan keraginan hampir sama dengan agar – agar, antara lain sebagai pengatur keseimbangan, pengental, pembentuk gel, dan pengemulsi. Keraginan banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan kue, roti, makroni, jam, jelly, sari buah, bir, es krim, dan gel pelapis produk daging. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk pasta gigi dan obat – obatan. Selain itu juga dapat dimanfaatkan dalam industri tekstil, kosmetik dan cat.

3. Algin (Alginat)
Algin ini didapatkan dari rumput laut jenis algae coklat. Algin ini merupakan polimer dari asam uronat yang tersusun dalam bentuk rantai linier panjang. Bentuk algin di pasaran banyak dijumpai dalam bentuk tepung natrium, kalium atau amonium alginat yang larut dalam air.
Kegunaan algin dalam industri ialah sebagai bahan pengental, pengatur keseimbangan, pengemulsi, dan pembentuk lapisan tipis yang tahan terhadap minyak. Algin dalam industri banyak digunakan dalam industri makanan untuk pembuatan es krim, serbat, susu es, roti, kue, permen, mentega, saus, pengalengan daging, selai, sirup, dan puding. Dalam industri farmasi banyak dimanfaatkan untuk tablet, salep, kapsul, plester, dan filter. Industri kosmetik untuk cream, lotion, sampo, cat rambut,. Dan dalam industri lain seperti tekstil, kertas, fotografi, insektisida, pestisida, dan bahan pengawet kayu.

D. Fungsi TON dalam Ekologi Rumput Laut
Rumput laut pertama kali ditemukan hidup secara alami bukan hasil budidaya. Mereka tersebar di perairan sesuai dengan lingkungan yang dibutuhkannya. Rumput laut memerlukan tempat menempel untuk menunjang kehidupannya. Di alam tempat menempel ini bisa berupa karang mati, cangkang moluska, dan bisa juga berupa pasir dan lumpur.

Selain itu rumput laut sangat membutuhkan sinar matahari untuk melangsungkan proses fotosintesa. Banyaknya sinar matahari ini sangat dipengaruhi oleh kecerahan air laut. Supaya kebutuhan sinar matahari tersedia dalam jumlah yang optimal maka harus diatur kedalaman dalam membudidayakannya. Kedalaman idealnya adalah berada 30 – 50 cm dari permukaan air.

Proses fotosintesa rumput laut tidak hanya dipengaruhi oleh sinar matahari saja, tetapi juga membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang cukup baik makro maupun mikro. Unsur hara ini banyak didapatkan dari lingkungan air yang diserap langsung oleh seluruh bagian tanaman. Untuk mensuplai unsur hara ini biasanya dilakukan pemupukan selama budidaya. Untuk membantu menyediakan unsur hara dalam jumlah yang optimal dan supaya cepat diserap oleh rumput laut ini, maka harus disediakan unsur hara yang sudah dalam keadaan siap pakai (ionik). Unsur hara ini banyak dikandung dalam TON (Tambak Organik Nusantara).

TON (Tambak Organik Nusantara), mengandung segala bahan-bahan yang dibutuhkan dalam pertumbuhan rumput laut. Baik menyediakan unsur hara mikro lengkap, juga menyediakan unsur makro. Selain itu TON juga akan meningkatkan kualitas rumput laut, karena akan menurunkan tingkat pencemaran logam berat yang juga akan terserap oleh rumput laut. Jika logam berat ini tidak ada yang mengikat, maka akan ikut terserap dalam proses absorbsi unsur hara dari rumput laut, sehingga sangat berbahaya bagi konsumen. Dengan adanya TON, logam berat ini akan terikat dalam bentuk senyawa dan akan mengendap atau sulit terserap oleh proses absorbsi.

Pertumbuhan rumput laut juga dipengaruhi oleh jumlah oksigen terlarut (DO), salinitas (kadar garam) dan temperatur. Kandungan Oksigen selain dipengaruhi oleh gerakan air juga dipengaruhi oleh ketersediaan unsur hara. Sehingga TON juga sangat penting untuk menunjang ketersediaan oksigen di perairan. Temperatur ideal bagi pertumbuhan rumput laut adalah berkisar 200 – 280 C

Dengan tersedianya unsur hara dalam jumlah yang optimal dan kondisi lingkungan yang seimbang karena pengaruh TON, maka kualitas dan kuantitas bahan – bahan yang dikandung oleh rumput laut juga akan meningkat.

Selain itu, pemakaian TON untuk budidaya rumput laut juga akan membantu mengikat senyawa – senyawa dan unsur – unsur berbahaya dalam perairan. Senyawa – senyawa dan unsur-unsur ini jika teradsorbsi dalam sistem metabolisme rumput laut, akan mengganggu pertumbuhan rumput laut dan juga akan menurunkan kualitas hasilnya. Selain itu jika rumput laut ini akan digunakan untuk bahan makanan, akan sangat berbahaya bagi yang menkonsumsinya. Kandungan senyawa karbon aktif dari TON akan sangat membantu untuk mereduksi senyawa-senyawa dan unsur – unsur berbahaya tersebut.

E. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pemakaian TON (Tambak Organik Nusantara)
Dalam menjalankan budidaya rumput laut, pertama yang harus diperhatikan adalah pemilihan lokasi budidaya. Sebaiknya lokasi budidaya diusahakan di perairan yang tidak mengalami fluktuasi salinitas (kadar garam) yang besar dan bebas dari pencemaran industri maupun rumah tangga. Selain itu pemilihan lokasi juga harus mempertimbangkan aspek ekonomis dan tenaga kerja.

Budidaya rumput laut dapat dilakukan di areal pantai lepas maupun di tambak. Dalam pembahasan sekarang ini kita akan menekankan pada budidaya di tambak. Hal ini mengingat peran TON yang tidak efektif jika diperairan lepas (pantai). Untuk budidaya perairan lepas dibedakan dalam beberapa metode, yaitu :
1. Metode Lepas Dasar
Dimana cara ini dikerjakan dengan mengikatkan bibit rumput laut pada tali – tali yang dipatok secara berjajar – jajar di daerah perairan laut dengan kedalaman antara 30 – 60 cm. Rumput laut ditanam di dasar perairan.

2. Metode Rakit
Cara ini dikerjakan di perairan yang kedalamannya lebih dari 60 cm. Dikerjakan dengan mengikat bibit rumput di tali – tali yang diikatkan di patok – patok dalam posisi seperti melayang di tengah – tengah kedalaman perairan.

3. Metode Tali Gantung
Jika dua metode di atas posisi bibit – bibit rumput laut dalam posisi horizontal (mendatar), maka metode tali gantung ini dilakukan dengan mengikatkan bibit – bibit rumput laut dalam posisi vertikal (tegak lurus) pada tali – tali yang disusun berjajar.

Pemakaian TON dengan 3 cara di atas hanya dapat dilakukan dengan sistem perendaman bibit. Karena jika TON diaplikasikan di perairan akan tidak efektif dan akan banyak yang hilang oleh arus laut. Metode perendaman bibit dilakukan dengan cara :
1. Larutkan TON dalam air laut yang ditempatkan dalam wadah .
2. Untuk 1 liter air laut diberikan seperempat sendok makan (5 – 10 gr) TON dan tambahkan 1 – 2 cc Hormonik.
3. Rendam selama 4 – 5 jam, dan bibit siap ditanam.

Pemakaian TON akan sangat efektif jika diaplikasikan dalam budidaya rumput laut di tambak. Cara budidaya di tambak ini dapat dilakukan dengan metode tebar. Caranya adalah sebagai berikut :
1. Tambak harus dilengkapi saluran pemasukan dan pengeluaran.
2. Tambak dikeringkan dahulu.
3. Taburkan kapur agar pH-nya netral ( 0,5 – 2 ton per-hektar tergantung kondisi keasaman lahan).
4. Diamkan selama 1 minggu.
5. Aplikasikan TON, dengan dosis 1 – 5 botol per-hektar (untuk daerah – daerah yang tingkat pencemarannya tinggi, dosisnya ditinggikan), dengan cara dilarutkan dengan air dahulu, kemudian disebar secara merata di dasar tambak.
6. Diamkan 1 hari
7. Masukkan air sampai ketinggian 70 cm.
8. Tebarkan bibit rumput laut yang sudah direndam dengan TON dan hormonik seperti cara perendaman di atas. Dengan kepadatan 80 – 100 gram/m2.
9. Bila dasar tambak cukup keras, bibit dapat ditancapkan seperti penanaman padi.
10. Tidak perlu ditambah pupuk makro.

F. Pemeliharaan dan aplikasi TON (Tambak Organik Nusantara) susulan.
Selama budidaya, harus dilakukan pengawasan secara kontinyu. Khusus untuk budidaya di tambak harus dilakukaan minimal 1 – 2 minggu setelah penebaran bibit, hal ini untuk mengontrol posisi rumput laut yang ditebar. Biasanya karena pengaruh angin, bibit akan mengumpul di areal tertentu, jika demikian harus dipisahkan dan ditebar merata lagi di areal tambak.

Kotoran dalam bentuk debu air (lumpur terlarut/ suspended solid) sering melekat pada tanaman, apalagi pada perairan yang tenang seperti tambak. Pada saat itu, maka tanaman harus digoyang – goyangkan di dalam air agar tanaman selalu bersih dari kotoran yang melekat. Kotoran ini akan mengganggu metabolisme rumput laut. Beberapa tumbuhan laut seperti Ulva, Hypea, Chaetomorpha, dan Enteromorpha sering membelit tanaman. Tumbuhan – tumbuhan tersebut harus segera disingkirkan dan dipisahkan dari rumput laut agar tidak menurunkan kualitas hasil. Caranya dengan mengumpulkannya di darat. Bulu babi, ikan dan penyu merupakan hewan herbivora yang harus dicegah agar tidak memangsa rumput laut. Untuk menghindari itu biasanya dipasang jaring disekeliling daerah budidaya. Untuk budidaya di tambak di lakukan dengan memasang jaring di saluran pemasukan dan pengeluaran.

G. Pemanenan
Pada tahap pemanenan ini harus diperhatikan cara dan waktu yang tepat agar diperoleh hasil yang sesuai dengan permintaan pasar secara kualitas dan kuantitas.

Tanaman dapat dipanen setelah umur 6 – 8 minggu setelah tanam. Cara memanen adalah dengan mengangkat seluruh tanaman rumput laut ke darat. Rumput laut yang dibudidayakan di tambak dipanen dengan cara rumpun tanaman diangkat dan disisakan sedikit untuk dikembangbiakkan lebih lanjut. Atau bisa juga dilakukan dengan cara petik dengan memisahkan cabang – cabang dari tanaman induknya, tetapi cara ini akan berakibat didapatkannya sedikit keraginan dan pertumbuhan tanaman induk untuk budidaya selanjutnya akan menurun.

Jika rumput laut dipanen pada usia sekitar satu bulan, biasanya akan diperoleh perbandingan berat basah dan berat kering 8 : 1, dan jika dipanen pada usia dua bulan biasanya akan didapat perbandingan 6 : 1. Untuk jenis gracilaria biasanya diperoleh hasil panen sekitar 1500 – 2000 kg rumput laut kering per- hektarnya. Diharapkan dengan penggunaan TON (Tambak Organik Nusantara) akan meningkat sekitar 30 – 100 %.

_“…Tuhan, berikan aku hidup satu kali lagi”_

Posted in Uncategorized on January 15, 2012 by opick_agribisnistrunojoyo

 

Untuk Bangsa Indonesia,

Untuk Bangsa Indonesia, kalau ingin maju, makmur, sejahtera aman dan damai. Hendaknya jangan saling menyalahkan lebih baik memberi masukan, memberi dukungan, jangan dulu menilai kesalahan orang lain nilai dulu diri sendiri apakah sudah baik, kalau belum mari perbaiki, apa untungnya saling menghujat, yang untung paling negara lain yang tidak ingin negeri ini aman dan damai, jangan banyak ngomong apalagi menghasut, mendingan banyak berkarya yang berguna bagi bangsa, bagi politisi jadilah politisi yang sportif berilah dukungan kepada pemenang, kritik boleh tapi jangan asal kritik. Akhir kata mari bahu membahu membangun negeri ini toh kalau negeri ini makmur aman dan damai kita juga yang menikmati, tapi ingat jangan mau menjadi budak negara lain, karena kacaunya negeri ini dikarenakan banyak orang indonesia yang menjadi budak negara lain