OPTIMALISASI PENGENDALIAN HAMA WERENG HIJAU SECARA EFEKTIF

BAB I

PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG

Wereng hijau merupakan vektor dari penyakit tungro pada tanaman  padi. Dariempat spesies wereng hijau  Nephotettix virescens Distant yang paling efisien memindahkan virus tungro (Siwi dan Tantera, 1982). Kehilangan hasil akibat serangantungro pada tanaman padi sangat bervariasi, tergantung pada saat tanaman terinfeksi, lokasi, titik infeksi, musim tanam dan jenis varietas yang ditanam.Di Indonesia terdapatempat spesies wereng hijau, yaituNephotettix virescens, N. nigropictus, N.malayanus, dan N. parvus.Di antaraempat spesies tersebut, N. virescensmerupakan vektor yang paling efisiendalam menularkan kompleks viruspenyebab penyakit tungro (Hibino danCabunagan 1986).Di antara vektor virus tungro yang ada di Indonesia, N. virescensadalah vektor terpenting, Karenna paling efektif menularkan virus tungro dan populasinya dominan di antaravektor lain (Himawati dan Supriyadi, 2003; Supriyadi et al., 2004).Nephottetix sp. dikenal sebagai wereng hijau, karma warnanya hijau Banyak menyerang bagian daun atamanpaid. Serangga dewasa berukuran 4 – 6 mm,telurnya berbentuk bulat panjang atau lonjong berwarna terang (kuning pucat),berukuran 1,3 X 0,30 mm. Telur ini diletakkan berderet-deret sebanyak 5 -25butir. Serangga betina mampu bertelur 200 – 300 butir yang diletakkan di dalamjaringan pelepah daun.Telur menetas setelah 4 – 8 hari Ban membentukserangga muda (nimfa).Nimfa ini mengalami 5 kali ganti kulit selama 16 -18 hari.

Penyakit tungro disebabkan oleh kompleks virus berbentuk batang dan bulat dan ditularkan oleh werenghijau terutama Nephotettix virescens.Penularan penyakit bersifat semipersisten dengan periode pemerolehan danpenularan virus oleh vektor yang sangat singkat. Penyakit ini merupakan salah satu kendala dalam menciptakanstabilitas produksi padiKarenna bersifat endemis di sentra produksi paid nasional Jawa dan Bali. Fluktuasi kepadatanpopulasi vektor mempengaruhi keberadaan penyakit.

Kepadatan populasi wereng hijau umumnya rendah (kurangdari 1 ekor imago/rumpun) dan hanya meningkat sekali selama satu periode pertanaman paid, terutama panda polatanam tidak serempak. Pemencaran imago mempengaruhi dinamika populasi wereng hijau.Oleh Karenna itu, upayamenekan proporsi vektor infektif merupakan alternatif strategi dalam menghambat penyebaran penyakit tungrodan mengimbangi kemampuan pemencaran imago. Berdasarkan strategi tersebut pengendalian terpadu penyakittungro disusun dengan mengintegrasikan taktik pengendalian yang adapt menekan aktivitas pemencaran imagowereng hijau dan mengurangi kemampuan dalam memperoleh maupun menularkan virus. Taktik pengendaliandianjurkan diintegrasikan bertahap sesuai dengan tahapan stadia pertumbuhan paid.

B.     RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana proses pertumbuhan wereng hijau?
  2. Apa saja gejala yang ditimbulkan oleh tanaman padi yang terjangkit wereng hijau?
  3. Apa dampak negatif wereng hijau terhadap pertumbuhan tanaman padi?
  4. Bagaimana cara pengendalian hama wereng hijau secara efektif?

C.     TUJUAN

Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui Bagaimana proses pertumbuhan wereng hijau
  2. Untuk mengetahui Apa saja gejala yang ditimbulkan oleh tanaman padi yang terjangkit wereng hijau
  3. Untuk mengetahui Apa dampak negatif wereng hijau terhadap pertumbuhan tanaman padi
  4. Untuk mengetahui Bagaimana cara pengendalian hama wereng hijau secara efektif

BAB II

PEMBAHASAN

A.     Proses pertumbuhan wereng hijau

Pertumbuhan dan fluktuasi populasi serangga pembawa virus atau serangga pada umumnya ditentukan oleh interaksi antar faktor intrinsik pada serangga dan adanya faktor lingkungan yang efektif. Faktor intrinsik adalah faktor bawaan atau genetik yang menentukan besarnya potensi pertumbuhan populasi, sedang faktor linglungan efektif meliputi cuaca makanan, tempat berlindung dan hewan atau organisme lain termasuk predator, parasit dan penyakit. Secara langsung dan tidak langsung, iklim berpengaruh terhadap brbagai aspek kehidupan serangga dan perilaku sehingga menentukan populasi serangga, dan berpengaru terhadap populasi terutama pada tingkat kelahiran, kematian, pertambahan jumlah dan penyebaran serangga. Faktor – faktor iklim yang penting peranannya dalam berbagai kehidupan serangga, yaitu : suhu, kelembaban nisbi udara, peguapan, angin, dan fotoperiodisitas (Fachruddin, 1980).

Perkembangan wereng hijau dari telur sampai dewasa melalui 3 stadia, yaitu telur, nimfa, dan dewasa dengan metamorfosis paurometabola.

  • Telur

Telur wereng hijau berbentuk bulat memanjang dan agak meruncing pada kedua ujungnya.Telur yang baru diletakkan berwarna bening, kemudian menjadi putih kekuning-kuningan.Pada umur 2 atau 3 hari dua bintik merah mulai tampak pada salah satu ujungnya.Bintik tersebut lebih nyata pada umur yang lebih tua dan ini merupakan mata facet embrio (Fachruddin, 1980).Serangga betine bertelur pada siang hari.Telur-telur diletakkan pada ibu tulang daun atau di pelepah daun.Stadia telur wereng hijau tergantung pada keadaan fisik tumbuhan terutama suhu.

Masa inkubasi telur antara 6 – 10 hari. Perkembangan 29º – 35ºC, dengan masa inkubasi 6,3 – 7,3 hari. Pada suhu yang lebih rendah masa inkubasi bertambah lama.Sebagian besar telur menetas diwaktu pagi antara pukul 06.00 sampai 12.00, namun pada suhu rendah (20ºC) waktu penetasan telur tersebar dari pagi sampai sore hati (Gallagher, 1991).

  • Nimfa

Nimfa N. virescens terdiri atas 5 instar yang berlangsung keseluruhannya selama 13-18 hari. Nimfa muda berwarna putih kekuningan.Setelah berganti kulit warnanya menjadi kuning atau hijau kekuningan hingga hijau terang. Setiap kali akan berganti kulit nimfa tidak aktif dan tetap pada tempatnya. Nimfa dari telur yang menetas akan segera bergerak menuju ke bagian atas tanaman dan berkumpul pada bagian bawah daun tua. Pada instar ke-2 dan seterusnya nimfa-nimfa tersebut merata pada daun padi. Pada tanaman yang layu nimfa berkumpul pada bagian pangkal pelepah daun (Hibino, 1987).

  • Imago

Wereng hijau yang baru menjadi dewasa berwarna kekuning-kuningan.Warna tersebut secara bertahap berubah menjadi hijau kekuning-kuningan yang akhirnya berubah menjadi hijau dalam waktu ± 3 jam.Wereng hijau menjadi dewasa pada waktu pagi.Imago jantan dan betina dapat hidup sampai 20 hari. Imago wereng hijau mempunyai tanda pada sayap bagian bawah yang lebih hitam dibanding dengan yang lain. Wereng hijau betina dapat menghasilkan telur sampai 300 butir. Produksi telur wereng hijau yang tertinggi terjadi pada suhu antara 29º- 33º C. Pada suhu 20º C imago betina mati sebelum bertelur, sedangkan pada suhu 35º C produksi telur rata-rata rendah karena masa imago leih pendek pada suhu itu (Fachruddin, 1980).

B.     Gejala Serangan Hama Wereng Hijau Terhadap Tanaman Padi

Wereng hijau (N. Virescens) menghisap cairan dari tanaman yang menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat. Nimfa instar awal makannya sangat sedikit sehingga menyebabkan kerusakan kecil pada tanaman. Tanaman akan mengalam kerusakan bila terdapat banyak nimfa instar akhir dan imago pada tanaman, karena terhisapnya unsur-unsur hara dan cairan tanaman (Gallagher, 1991).Penyakit tungro pada padi disebabkan oleh kompleks virus berbentuk batang dan bulat dan ditularkan oleh wereng hijau, gejala utama penyakit tungro tampak pada perubahan warna pada daun muda menjadi kuning orange mulai dari ujung daun, jumlah anakan berkurang, tanaman kerdil dan pertumbuhannya terhambat. Gejala penyakit tersebar mengelompok, hamparan tanaman padi terlihat seperti bergelombang karena adanya perbedaan tinggi tanaman antara tanaman sehat dan yang terinfeksi. Tanaman muda lebih rentan. Pada varietas tertentu sering gejala tungro menghilang setelah beberapa lama dan muncul kembali pada anakan atau turiang (Hibino 1987).

C.     Dampak negatif wereng hijau terhadap pertumbuhan tanaman padi

Tanaman yang terserang tunas berkurang dan berwarna kuning. Serangga pada tanaman muda dapat menyebabkan mulai yang dihasilkan steril dan kecil.Wereng hijau dapat berperan sebagai vactor penyakit yang disebabkan oleh virus tungo.Secara morfologis tanaman padi yang tertular virus tungro menjadi kerdil, daun berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-bercak berwarna coklat.Perubahan warna daun di mulai dari ujung, meluas ke bagian pangkal.Jumlah anakan sedikit dan sebagian besar gabah hampa.Infeksi virus tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, malai pendek sehingga jumlah gabah per malai rendah.Serangan yang terjadi pada tanaman yang telah mengeluarkan malai umumnya tidak menimbulkan kerusakan fatal.

Tinggi rendahnya intensitas serangan tungro ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya: ketersediaan sumber inokulum (tanaman terserang), adanya vektor (penular), adanya varietas peka dan kondisi lingkungan yang memungkinkan, namun keberadaan vektor yang mengandung virus adalah faktor terpenting. Intensitas penyakit tungro juga dipengaruhi oleh tingkat ketahanan varietas dan stadia tanaman. Tanaman stadia muda, sumber inokulum tersedia dan populasi vektor tinggi akan menyebabkan tingginya intensitas serangan tungro. Ledakan tungro biasanya terjadi dari sumber infeksi yang berkembang pada pertanaman yang tidak serempak.

D.    Cara Pencegahan dan pengendalian Hama Wereng Hijau Secara Efektif

Pada prinsipnya penyakit tungro tidak dapat dikendalikan secara langsung artinya, tanaman yang telah terserang tidak dapat disembuhkan. Pengendalian bertujuan untuk mencegah dan meluasnya serangan serta menekan populasi wereng hijau yang menularkan penyakit. Mengingat banyaknya faktor yang berpengaruh pada terjadinya serangan dan intensitas serangan, serta untuk mencapai efektivitas dan efisiensi, upaya pengedalian harus dilakukan secara terpadu yang meliputi :

  • Penggunaan pestisida

Penggunaan pestisida dalam mengendalikan tungro bertujuan untuk eradikasi wereng hijau pada pertanaman yang telah tertular tungro agar tidak menyebar ke pertanaman lain dan mencegah terjadinya infeksi virus pada tanaman sehat. Penggunaan insektisida sistemik butiran (carbofuran) lebih efektif mencegah penularan tungro. Mengingat infeksi virus dapat terjadi sejak di pesemaian, sebaiknya pencegahan dilakukan denganmenggunakan insektisida confidor. Setelah beberapa ilmuan melakukan penelitian ternyata penggunaan insektisida confidor ini cukup efektif dalam pemberantasan hama wereng hijau. Insesektisida hanya efektif menekan populasi wereng hijau pada pertanaman padi yang menerapkan pola tanam serempak. Karena itu pengendalian penyakit tungro yang sangat berbahaya akan berhasil apabila dilakukan secara bersama-sama dalam hamparan relatif luas, utamakan pencegahan melalui pengelolaan tanaman yang tepat (PTT) untuk memperoleh tanaman yang sehat sehinga mampu bertahan dari ancaman hama dan penyakit.

  • Pemupukan N yang tepat

Pemupukan N berlebihan menyebab-kan tanaman menjadi lemah, mudah terserang wereng hijau sehingga memudahkan terjadi inveksi tungro, oleh karena itu penggunaan pupuk N harus berdasarkan pengamatan dengan Bagan Warna Daun (BWD) untuk mengetahui waktu pemupukan yang paling tepat. Dengan BWD, pemberian pupuk N secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan tanaman sehingga tanaman tidak akan menyerap N secara berlebihan.

  • Menanam varietas tahan

Menanam varietas tahan merupakan komponen penting dalam pengendalian penyakit tungro.Varietas tahan artinya mampu mempertahankan diri dari infeksi virus dan atau penularan virus oleh wereng hijau.Walaupun terserang, varietas tahan tidak menunjukkan kerusakan fatal, sehingga dapat menghasilkan secara normal. Ada beberapa jenis varietas yang mampu tahan terhadap serangan hama wereng hijau, jenis  varietas yang mampu tahan terhadap serangan hama wereng hijau tersebut adalah Tukad Petanu , Tukad Unda , Tukad Balian , Bondoyudo, Kalimas.

  • Penanaman serempak

Penanaman serempak merupaka salah satu cara pengendalian hama wereng hijau secara efektif, hal itu disebabkan oleh penanaman tidak serempak menjamin ketersediaan inang dalam rentang waktu yang panjang bagi perkembangan virus tungro, sedangkan bertanam serempak akan memutus siklus hidup wereng hijau dan keberadaan sumber inokulum. Penularan tungro tidak akan terjadi apabila tidak tersedia sumber inokulum walaupun ditemukan wereng hijau, sebaliknya walaupun populasi wereng hijau rendah akan terjadi penularan apabila tersedia sumber inokulum.

BAB III

PENDAHULUAN

1.      KESIMPULAN

Wereng hijau merupakan vektor dari penyakit tungro pada tanaman  padi. Dariempat spesies wereng hijau  Nephotettix virescens Distant yang paling efisien memindahkan virus tungro (Siwi dan Tantera, 1982). Wereng hijau (N. virescens )merupakan vektor yang paling efisiendalam menularkan kompleks viruspenyebab penyakit tungro (Hibino danCabunagan 1986).  Di antara vektor virus tungro yang ada di Indonesia, N. virescensadalah vektor terpenting, Karenna paling efektif menularkan virus tungro dan populasinya dominan di antaravektor lain (Himawati dan Supriyadi, 2003; Supriyadi et al., 2004). Wereng hijau ini merupakan hama yang sangat berbahaya terhadap perkembangan tanaman padi, tanaman padi yang terjangkit hama wereng hijau akan mengalami permasalahn terhadap proses pertumbuhan tanaman, sehingga hal itu akan berdampak terhadap hasil produksi. Pengendalian hama wereng hijau secara efektif sangat penting untuk dilakukan oleh para petani agar tanaman padi tersebut mampu tumbuh dan berkembang secara optimal.

2.      SARAN

Semoga penulisan makalah ini menjadi salah satu tambahan ilmu pengetahuan dan informasi kepada pembaca tentang pentingnya melestarikan pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan mikoria sebagai alternative baru dalam memecahkan masalah pertanian, Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran yang konstruktif dari pembaca demi sempurnanya penulisan dimasa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Widiarta IN, Burhanuddin, Daradjat AA, Hasanuddin A. 2004. Status dan program penelitian pengendalian terpadu penyakit tungro. Prosiding Seminar Nasional Status Program Penelitian Tungro Mendukung Keberlanjutan Produksi Padi Nasional. Makassar, 7 – 8 September 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian. Hal 61-89.

http://centongkaleng.wordpress.com/2011/08/05/hama-padi-wereng/

http://centongkaleng.wordpress.com/tag/wereng-hijau/

http://encum-nurhidayat.blogspot.com/2011/05/wereng-hijau-green-leafhopper.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: