LOGIKA SEORANG FILOSOFI

.          

Dari Filsafat ke Logika

OLEH : MUSFIQUR RAHMAN

Filsafat merupakan ilmu yang paling tua. Itulah sebabnya orang mengatakan bahwa filsafat merupakan ibu dari segala ilmu. Namun, apayang dimaksud dengan filsafat dan bagaimanakah hubungannya dengan logika?

Filsafat merupakan kosakata bahasa Indonesia yang diambil dari bahasa Arab, falsafah. Falsafah itu sendiri berasal dari bahasa Yunani philosophia. Philos artinya ‘suka’, ‘gemar’, atau ‘cinta’ dan sophia artinya ‘bijak’ atau ‘kebijaksanaan’. Jadi, philosophia dapat diartikan ‘cinta pada kebijakan’.

Terdapat beberapa kata yang dikembangkan dari kata filsafat. Kata-kata yang dimaksudkan yaitu: filosof, filosofi, dan filosofis. Filsafat itu sendiri merupakan sebuah disiplin ilmu. Ia merupakan disiplin ilmu yang berintikan logika (penalaran yang tepat), estetika (keindahan rasa, kaidah, maupun sifat hakiki dari keindahan itu), metafisika (segala sesuatu yang ada di luar alam biasa), dan epistimologi (dasar-dasar pengetahuan terutama dalam batas-batas hubungan dan nilai). Filosof yaitu orang yang ahli dalam filsafat. Filosofi memiliki makna ilmu filsafat. Filosofis yakni bersifat filsafat, misalnya pada kalimat, “Buah pikiran yang dikemukakannya sangat filosofis dan dalam”.

Dalam pemakaian sehari-hari, kata filsafat sering diartikan menjadi cara berpikit atau alam pikiran. Orang yang mau berpikir sering disebut orang yang berfilsafat. Orang yang berpikir secara filsafat atau lazim disebut filosofis yaitu orang yang berpikir sungguh-sungguh dan mendalam penuh kebijakan. Oleh karena itu, tidaklah heran jika ada orang yang berkata, “Seseorang pada dasarnya filosof”. Pernyataan itu benar, namun tidak seluruhnya. Filosof hanyalah orang yang berpikir sungguh-sungguh dan mendalam dengan penuh kebijakan mengenai suatu objek, misalnya: ketuhanan, alam semesta, juga manusia serta dapat menghasilkan suatu pengetahuan tentang bagaimana sikap manusia seharusnya setelah beroleh pengetahuan tersebut.

Aristoteles dalam Bakry membagi filsafat menjadi empat bagian yaitu: (1) logika; (2) filsafat teoretis yang membawahi tiga cabang ilmu yaitu: fisika, matematika dan biologi; (3) filsafat praktis yang juga melingkupi tiga cabang yakni: etika, ekonomi, dan politik; serta (4) filsafat puitika atau kesenian.

Aristoteles berpendapat bahwa logika merupakan ilmu yang menjadi dasar segala ilmu. Ia merupakan ilmu pendahuluan bagi filsafat. Secaraetimologis, kata logika dalam bahasa Indonesia dipungut dari bahasa Belanda yang mulanya berasal dari bahasa Yunani dengan kata sifat logike yang berkaitan dengan kata logos dengan makna kata atau pikiran. Kata ataupikran yang dimaksud di sini adalah yang benar atau yang sehat. Pikiran yang benar atau sehat itu dimanifestasikan dalam bahasa. Jadi, dapat disimpulkan bahwa logika atau mantiq adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari pikiran sehingga orang yang mempelajarinya itu dapat berpikir dan berbahasa secara benar.

B.            Macam Logika

Manusia merupakan mahluk Allah yang sempurna. Itu karena Allah memberikan akal kepada mereka. Dengan akal inilah manusia dan pikirannya merupakan bagian dari isi alam yang paling mulia. Tidak ada yang termulia di dunia yang melebihi manusia dengan akalnya. Itulah sebabnya Allah mengangkat derajat mahluk ini menjadi halifah di alam raya.

Dengan akalnya pula, manusia terus berpikir mencari hakikat kebenaran. Logika sebagai suatu disiplin ilmu sebenarnya berusia sama tuanya dengan kehadiran manusia pertama di mika bumi. Tentu saja, karena manusia pertama berpikir berdasarkan kodrat dan fitrahnya, maka pikiranyang muncul pun sederhana – sebuah pikiran alamiah – . Itulah sebabnya logika tersebut dinamakan logika natural. Karena dari masa ke masa manusia berubah (karena manusia selalu cenderung berusaha mengubah nasibnya, hari ini harus lebih baik dari hari yang lalu dan yang akan dating harus lebih baik dari hari ini), maka logika pun berkembang. Salam (1988) menyebutkan bahwa selain logika natural, terdapat bermacam-macam logika, yaitu: logika ilmiah, logika artificial, logika tradisional, logika formal, dan logika materiil.

Seperti yang telah diulas, logika natural merupakan logika yang paling sederhana, alamiah, dan belum dikembangkan. Jika dibandingkan dengan kehidupan sekarang, kita dapat melihat anak-anak yang belum “berpikir”. Mereka berpikir seperti: ibu tidak sama dengan ayah, makan berbeda dengan minum, atau tertawa berlainan dengan menangis. Seperti itulah manusia “lama” berpikir.

Logika Ilmiah sebenarnya merupakan lanjutan dari logika natural. Ia lahir jika manusia dibimbing untuk dapat menggunakan pikirannya secara maksimal. Bimbingan itu diberikan secara sistematis sehingga mereka dapat menguasai pola-pola berpikir secara teratur sesuai dengan hokum ketetapan dan kebenaran berpikir. Logika ilmiah diberikan lewat dunia pendidikan.

Logika Artificial sering pula disebut logika tradisional. Dikatakan demikian, karena logika ini lahir berdasarkan tradisi kuno sejak filosof Aristoteles berhasil merumuskan kaidah-kaidah logika dalam bukunya yang terkenal Organon yang maknanya instrument atau alat. Yang dimaksud adalah alat untuk berpikir secara sehat dan benar. Buku itu dianggap sebagai induk logika. Sebenarnya, sebelum Aristoteles sedah ada kaidah-kaidah logika yang merupakan ajaran tentang berpikir benar dari Negara-negara timur kuno seperti: Mesir, Babilonia, India dan Tiongkok. Namun, semuanya belum sistematis seperti kaidah-kaidah logika Aristoteles.

Pada masa Aristoteles, terdapat beberapa kelompok yang saling bertentangan. Mereka mempertahankan kebenaran berpikir masing-masing terhadap suatu masalah atau objek. Mereka menganggap bahwa diri mereka atau golongan merekalah yang benar, yang lainnya salah. Apakah kedua-duanya dapat benar atau salah? Menghadapi kenyataan seperti itulah pengetahuan logika sebagai “organon” atau alat dapat dipergunakan untuk mengkajinya sehingga didapatkan kebenaran. Logika tradisional ini kemudian dikembangkan menjadi Logika Formal dan Logika Materiil.

Logika Formal mempelajari azas-azas, kaidah-kaidah, atau hukum-hukum berpikir yang harus ditaati agar manusia dapat berpikir secaraatau benar untuk mencapai kebenaran. Logika formal ini untuk mempelajari filsafat itu secara mendalam. Logika formal ini lazim disebut pula Logika Minor.

Logika Materiil mempelajari langsung pekerjaan akal serta menilai hasil-hasil logika formal dan mengujinya dengan kenyataan praktis yang riil. Apakah hasil kerja logika formal itu sudah sesuai dengan kenyataannya atau belum. Logika materiil mempelajari : (1) asal usul dan sumber pengetahuan ; (2) alat-alat pengetahuan ; (3) proses terjadinya pengetahuan ; (4) batas-batas penjelajahan pengetahuan ; dan akhirnya (5) merumuskan metode ilmu pengetahuan tersebut. Logika materiil disebut pula Logika Mayor. Logika mayor inilah yang menjadi sumber yakni menimbulkan filsafat mengenal (kinnesleer) dan filsafat ilmu pengetahuan (wetenschapsleer).

A.           Logika dan Penalaran

Manusia merupakan mahluk yang berakal. Dengan akalnya, manusia berpikir. Proses berpikir biasanya bertolak dari pengamatan indera atau observasi empirik. Proses itu dalam pikiran menghasilkan sejumlah pengertian dan sekaligus keputusan. Berdasarkan pengamatan terhadap objek sejenis, maka pikiranpun akan menetapkan keputusan atau proposisi yang sejenis pula. Itulah yang disebut dengan penalaran. Dengan kalimat lain, penalaran dapat diartikan sebagai proses berpikir tentang sesuatu kebenaran yang telah ada untuk menghasilkan kebenaran yang baru.

Untuk menjelaskan pernyataan di atas, kita dapat mengambil suatu peristiwa sebagai contoh. Orang memanaskan beberapa benda cair. Benda cair pertama dipanaskan, lalu menguap. Benda cair kedua dipanaskan, hasilnya sama yakni menguap. Kita melakukannya terhadap sepuluh macam benda cair, ternyata hasilnya sama: menguap. Jika orang yang mengamati fenomena itu sadar, maka dia akan menduga, benda cair yang lainnya pun jika dipanaskan juga akan menguap. Apa yang terjadi dari proses tersebut, berdasarkan sejumlah proposisi yang sudah diketahui dan dianggap benar, orang pun akan menyimpulkan proposisi baru terhadap sejumlah objek lain yang sejenis yang belum diketahui.

Dalam penalaran, proposisi-proposisi yang menjadi dasar penyimpulan dinamakan antesedens atau premis sedangkan kesimpulannya disebut konsekuens atau konklusi. Di antara premis dan konklusi, ada hubungan tertentu yang lazim disebut konsekuensi.

Produk penalaran berupa pengetahuan berkaitan dengan aktivitas berpikir bukan aktivitas emosi. B. Pascal mengatakan bahwa hati manusia sebenarnya mempunyai logika sendiri, namun tidak semua aktivitas berpikir berlandaskan pada penalaran. Oleh karena itu, penalaran merupakan aktivitas berpikir yang mempunyai ciri-ciri tertentu dalam menemukan suatu kebenaran.

Ada dua ciri yang menunjukkan bahwa penalaran merupakan sebuah aktivitas berpikir. Pertama, dalam penalaran terdapat pola berpikir yang disebut logika atau proses berpikir logis. Proses berpikir logis harus diterapkan secara konsisten (taat azas) dan konsekuen sehingga kita menggunakan pola berpikir yang sama untuk hal-hal tertentu. Jangan sampai terjadi, dalam menetapkan suatu proposisi, orang bertitik tolak dari proposisi-proposisi yang berbeda. Hal ini tentu saja tidak logis. Kedua, dalam penalaran adanya sifat yang analitis dari proses berpikir manusia. Sifat analitis ini didasarkan pada logika tertentu dengan pola-pola berpikir tertentu pula. Oleh karena itu, langkah-langkah yang ditempuhnya pun akan sesuai dengan pola pikir yang digunakan sebagai landasannya.

Proses penalaran meliputi aktivitas mencari preposisi-preposisi untuk disusun menjadi premis. Selanjutnya, orang akan menilai kaitan proposisi-proposisi di dalam premis itu berakhir dengan penetapan konklusi. Penyimpulan dalam pengertian sesungguhnya bukan meliputi aktivitas menemukan proposisi-proposisi yang disusun dalam premis, melainkan hanya menilai hubungan proposisi-prososisi didalam premis dan menentukan konklusinya.

Penalaran itu sebenarnya aktivitas berpikir yang masih abstrak. Hasil penalaran itu dimanifestasikan dalam bahasa yang lazim disebut argumen. Argumen inilah yang sebenarnya bukti dalam menentukan kebenaran konklusi dari suatu premis.

Selain cara pengambilan konklusi seperti di atas, dalam kehidupan sehari-hari terdapat suatu penarikan konklusi yang tidak didasarkan atas penalaran yang berlandaskan logika. Ada proses berpikir yang tidak dilandasi oleh penalaran yang dikenal dengan sebutan intuisi. Intuisi dapat dimaknai sebagai suatu aktivitas berpikir yang non-analitik dan tanpa dilandasi oleh pola-pola tertentu. Dengan demikian, cara berpikir manusia dapat dibedakan atas: (1) berpikir yang dilandasi oleh pola-pola tertentu yang taat azas yangdisebut penalaran; dan (2) berpikir yang tidak taat azas yang disebut dengan intuisi.

 

B.            Logika dan Pengetahuan

Wujud kongkret penalaran adalah argumen. Produk argumen ini disebut pengetahuan. Oleh karena itu, dalam mempelajari logika ini, kita sebaiknya memaparkan pengertian pengetahuan serta sumbernya terlebih dahulu.

Di samping kata pengetahuan, kita sering mendengar istilah ilmu. Ilmu sebenarnya memiliki makna yang sama dengan pengetahuan. Namun, untuk mempertegas arti, sering keduanya digabungkan menjadi ilmu pengetahuan. Diketahui pula bahwa pengetahuan merupakan hasil dari aktivitas tahu. Keistimewaan pengetahuan yaitu bahwa hasil aktivitas tahu itu diperoleh melalui alat pikiran. Pengetahuan pada dasarnya hasil penalaran seseorang atau gagasan yang relevan dengan benda yang sebenarnya dan yang diyakini kebenarannya.

Berdasarkan kenyataan tersebut, pengetahuan minimal harus mampu memenuhi persyaratan: (1) adanya gagasan dalam pikiran; (2) gagasan itu relevan dengan benda yang sesungguhnya; dan (3) diyakini kebenarannya tentang adanya penyesuaian gagasan dengan benda yang sebenarnya. Jika salah satu syarat minimal itu tidak terpenuhi, maka pengetahuan itu diragukan kebenarannya.

Sebenarnya, pengetahuan lahir diawali oleh adanya rasa heran dan ingin tahu yang mendorong seorang ilmuwan melakukan penelitian-penelitian. Dalam hidup ini, manusia sering melihat masalah, memikirkannya, mengamatinya dengan cermat, dan kemudian menghubung-hubungkan hasil pengamatannya itu.

Marilah kita mengambil contoh yang sangat sedrhana. Katakanlah di laut banyak ikan. Hal itu berarti dalam pikiran kita ada suatu gagasan tentang adanya laut dan di dalamnya hidup bermacam-macam ikan. Gagasan itu sesuai dengan realita yang betul-betul ada. Akhirnya kita meyakini bahwa memang di laut banyak terdapat ikan.

Dengan perkataan lain, suatu pengetahuan lahir dari hasil pemikiran ilmiah. D.C. Mulder mengemukakan minimal ada empat hal yang harus diperhatikan oleh pemikir ilmiah. Keempatnya yaitu : (1) berpikir ilmiah selalu mengkhususkan kepada hal yang dipikirkan ; (2) bertanya terus menerus tentang hal yang dipikirkan ; (3) pertanyaan itu dijawab dengan argumentasi yang kuat ; dan (4) semuanya disertakan pula sistematis dan keteraturan.

Adinegoro mengatakan bahwa tiap-tiap bagian dari dunia pengetahuan mengusahakan agar mencapai kemajuan di bidang masing-masing dengan mengumpilkan bukti-bukti yang lengkap, sedangkan logika mencari aturan-aturan dan hukum-hukum cara berpikir yang sesuai dan perlu untuk mencapai hasil yang baik dan benar dalam memajukan ilmu pengetahuan pada umumnya. Logika tidak mengajarkan apa yang harus dipikirkan, tetapi mengajarkan cara memikirkan sesuatu.

Mehra dan Burhan mengatakan bahwa ada tiga sumber pengetahuan. Ketiganya yaitu : (1) pengetahuan diperoleh dari pengamatan langsung ; (2) pengetahuan diperoleh dari suatu konklusi ; dan (3) pengetahuan diperoleh dari suatu kesaksian atau otoritas.

Selanjutnya Mehra dan Burhan mengatakan bahwa pengetahuan langsung dapat diperoleh dari dua sumber yaitu persepsi ekstern dan persepsi intern. Pada persepsi ekstern secara langsung kita dapat mengetahui adanya suatu benda dalam dunia luar dengan melalui alat-alat indera. Pada persepsi intern, yang biasa kita sebut instropeksi secara langsung kita dapat mengetahui atau merasakan keadaan dalam diri kita sendiri, misalnya kebahagiaan dan kesedihan.

Untuk menarik konklusi yang baru tentang sesuatu yang belum diketahui berdasarkan pada kenyataan atau data yang sudah ada. Data itu diperoleh dari pengetahuan langsung. Contohnya : pada siang hari udara panas oleh sinar dan dari panasnya sinar tersebut kita mengetahui bahwa ada matahari. Di sini yang kita ketahui terlebih dahulu yaitu adanya sinar matahari pada siang hari yang berudara panas, kita menarik suatu konklusi bahwa ada matahari yang bersinar. Jadi, pengetahuan kita tentang adanya matahari diperoleh setelah menarik suatu konklusi bahwa ada matahari yang bersinar.

Pengetahuan ada yang diperoleh dari kesaksian. Maksudnya, keterangan itu berasal dari seseorang yang dipercaya. Kita harus menyadari bahwa untuk memperoleh pengetahuan secara langsung sangat terbatas. Manusia pun mencari jalan lain. Salah satu cara yang dapat ditempuh yaitu mencari keterangan dari orang yang dapat dipercaya. Hal ini dapat dilakukan dengan cara berdialog atau membaca karya mereka. Di lain pihak, otoriti menghendaki kekuatan untuk mempengaruhi pendapat dan menanamkan kepercayaan. Kekuatan itu dapat dimiliki oleh individu, benda, atau suatu lembaga. Sebelum diterima, pengetahuan yang diperoleh itu harus diuji terlebih dahulu dengan cermat. Dengan demikian, kita akan terhindar dari kesesatan yang disebabkan oleh pengaruh individu, benda, atau lembaga tersebut.

Selain ketiga sumber tersebut, ada lagi sumber pengetahuan yang lain yaitu wahyu Allah. Pengetahuan jenis ini disampaikan oleh para nabi dan utusan Allah sejak Nabi Adam sampai dengan Nabi Muhammad saw. Wahyu Allah ini dikodifikasikan dalam tiga buah kitab suci yaitu Taurat, Injil dan Alquran. Wahyu Allah ini berisi pengetahuan, baik mengenai kehidupan yang terjangkau oleh empiri maupun mencakup permasalahan yang transedental yaitu latar belakang terciptanya manusia, dunia serta isinya dan kehidupan abadi di akhirat kelak. Berbeda dengan tiga sumber pengetahuan di atas, pengetahuan yang bersumber dari Allah dimulai oleh keyakinan. Bertitik pangkal dari keyakinan inilah kita melakukan pengkajian.

C.           Logika dan Bahasa

Sudah dikatakan bahwa penalaran adalah sesuatu yang abstrak. Ia akan berwujud jika dikemukakan. Alat untuk mewujudkannya itu adalah bahasa.

Ada yang mengatakan bahwa bahasa menunjukkan pikiran pemakainya. Jika bahasa itu rancu, maka hal itu sebagai akibat dari kerancuan berpikir pemakainya karena tautan antara bahasa dan pikiran begitu erat. Jika kita membaca kalimat harus dua atau tiga kali, karena kita tidak segera memahami makna yang dikandungnya, padahal yang digunakan itu bahasa kita sendiri. Jika itu terjadi maka dapat dikatakan bahwa bahasa yang digunakannya itu tidak tersusun secara benar. Padahal uraian ilmu atau budaya yang sangat rumit sekalipun akan dapat kita serap, kita pahami, jika disusun dengan bahasa yang runtun. Berikut ini, contoh kalimat-kalimat yang kurang tepat daya nalarnya.

Seorang pembawa acara dalam suatu pertemuan berkata, “Hadirin yang saya hormati, selanjutnya kita menginjak pada acara sambutan yang ketiga yaitu dari Bapak Rektor. Waktu dan tempat kami persilakan.

Daya nalar yang tidak logis dari pembicara pada kalimat di atas kadang-kadang ditanggapi secara logis oleh pendengarnya. Rektor seharusnya jangan beranjak dari tempat duduknya, karena yang dipersilakan memberikan sambutan bukan dirinya, melainkan waktu dan tempat.

Sebenarnya, tidak ada bahasa yang kacau. Kekacauan sebuah struktur bahasa hanya ganbaran kekacauan lingual, tetapi kekacauan kognitif. Kekacauan bahasa bukanlah sebab tetapi hanya merupakan akibat dari kekacauan pikiran penggunanya. Untuk berpikir jernih, diperlukan situasi yang jernih pula.

D.           Manfaat Mempelajari Logika

Manfaat mempelajari logika sudah banyak diperdebatkan orang. Banyak orang yang merasa dirinya sudah dapat berpikir logis, mampu berdebat dengan sistematis. Padahal tidak mempelajari logika. Sebaliknya, yang telah banyak mempelajari logika merasa bosan dan jemu dengan teknik dan analisis yang terdapat dalam proses berlogikanya. Kenyataan lain menunjukkan tidak sedikit orang yang mempelajari logika berbuat “kesalahan logis“ atau kesesatan.

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus mengembalikan bahwa tujuan logika sebagai suatu studi ilmiah hanya untuk memberikan prinsip-prinsip dan hukum-hukum berpikir yang benar. Akan digunakan atau tidaknya apa yang telah diperolehnya itu, bergantung kepada pribadi masing-masing.

Bapak logika, Aristoteles pertama kali memaparkan cara berpikir yang teratur dengan prinsip-prinsip dan hukum-hukum yang taat azas. Logika, tidak lain merupakan cara berpikir secara teratur, taat azas, setia pada aturan yang tepat. Jadi, dalam berpikir kita selalu mempertautkan isi pikiran itu secara benar.

Berdasarkan paparan di atas, kita menyadari bahwa banyak manfaat yang dapat ditimba dengan mempelajari logika. Berikut ini Mehra dan Burhan memaparkan tiga manfaat mempelajari logika.

(1)        Logika menyatakan, menjelaskan, dan mempergunakan prinsip-prinsip abstrak yang dapat dipergunakan dalam semua lapangan ilmu pengetahuan.

(2)        Pelajaran logika menambah daya pikir abstrak dan ddengan demikian melatih dan mengembangkan daya pemikiran dan menimbulkan disiplin intelektual.

(3)        Logika mencegah kita tersesat oleh segala sesuatu yang kita peroleh berdasarkan otoriti.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: