_”_Revolusi hidupku_”_

Posted in Uncategorized on January 15, 2012 by opick_agribisnistrunojoyo
Revolusi hidupku
oleh; MUSFIQUR RAHMAN
Ditengah terik matahari siang itu
aku kobarkan semangatku untuk meraih citaku,

Kucuran keringat pelipis kanan tak membuatku patah semangat,
Bunyi sepatuku seakan menjadi teman keseharianku,

seribu satu cita-citaku terpangpang kokoh di pintu kamarku,
Hijrah ke luar negeri adalah salah satu impian hidupku,

Menjadi orang yang kritis tranformatif adalah impianku menuju perubahan untuk masa depanku,

Akku ingin menjadi seperti bung karno yang mampu membawa perubahan terhadap indonesia,,

berjuang tanpa berfikir akan sia-sia karena itu seperti gelembung-gelembung sabun yang berterbangan di udara,
Begitu pula berfikir tanpa berjuang semua itu tag berguna..

Revolusi hidupku adalah berjuang bukan untuk berfikir tapi berfikir untuk berjuang

Advertisements

_PERAN MIKORIZA SEBAGAI ALTERNTIF TERCITANYA PERTANIAN BERKELANJUTAN _

Posted in Uncategorized on January 15, 2012 by opick_agribisnistrunojoyo

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Mikroba-mikroba tanah banyak yang berperan di dalam penyediaan maupun penyerapan unsur hara bagi tanaman. Tiga unsur hara penting tanaman, yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) seluruhnya melibatkan aktivitas mikroba. Hara N tersedia melimpah di udara. Kurang lebih 74% kandungan udara adalah N. Namun, N udara tidak dapat langsung dimanfaatkan tanaman. N harus ditambat atau difiksasi oleh mikroba dan diubah bentuknya menjadi tersedia bagi tanaman. Mikroba penambat N ada yang bersimbiosis dan ada pula yang hidup bebas. Mikroba penambat N simbiotik antara lain : Rhizobium sp yang hidup di dalam bintil akar tanaman kacang-kacangan (leguminose). Mikroba penambat N non-simbiotik misalnya: Azospirillum sp dan Azotobacter sp. Mikroba penambat N simbiotik hanya bisa digunakan untuk tanaman leguminose saja, sedangkan mikroba penambat N non-simbiotik dapat digunakan untuk semua jenis tanaman. Mikroba tanah lain yang berperan di dalam penyediaan unsur hara adalah mikroba pelarut fosfat (P) dan kalium (K). Tanah pertanian kita umumnya memiliki kandungan P cukup tinggi (jenuh). Namun, hara P ini sedikit/tidak tersedia bagi tanaman, karena terikat pada mineral liat tanah. Di sinilah peranan mikroba pelarut P. Mikroba ini akan melepaskan ikatan P dari mineral liat dan menyediakannya bagi tanaman. Banyak sekali mikroba yang mampu melarutkan P, antara lain: Aspergillus sp, Penicillium sp, Pseudomonas sp dan Bacillus megatherium. Mikroba yang berkemampuan tinggi melarutkan P, umumnya juga berkemampuan tinggi dalam melarutkan K.

Kelompok mikroba lain yang juga berperan dalam penyerapan unsur P adalah Mikoriza yang bersimbiosis pada akar tanaman. Setidaknya ada dua jenis mikoriza yang sering dipakai untuk biofertilizer, yaitu: ektomikoriza dan endomikoriza. Mikoriza berperan dalam melarutkan P dan membantu penyerapan hara P oleh tanaman. Selain itu tanaman yang bermikoriza umumnya juga lebih tahan terhadap kekeringan. Contoh mikoriza yang sering dimanfaatkan adalah Glomus sp dan Gigaspora sp. Beberapa mikroba tanah mampu menghasilkan hormon tanaman yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Hormon yang dihasilkan oleh mikroba akan diserap oleh tanaman sehingga tanaman akan tumbuh lebih cepat atau lebih besar. Kelompok mikroba yang mampu menghasilkan hormon tanaman, antara lain: Pseudomonas sp dan Azotobacter sp.

Cendawan Mikoriza Arbuskula (CMA) adalah salah satu tipe cendawan pembentuk mikoriza yang akhir-akhir ini cukup populer mendapat perhatian dari para peneliti lingkungan dan biologis. Cendawan ini diperkirakan pada masa mendatang dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif teknologi untuk membantu pertumbuhan, meningkatkan produktivitas dan kualitas tanaman terutama yang ditanam pada lahan-lahan marginal yang kurang subur atau bekas tambang/industri. Istilah mikoriza diambil dari Bahasa Yunani yang secara harfiah berarti jamur (mykos = miko) dan akar (rhiza). Jamur ini membentuk simbiosa mutualisme antara jamur dan akar tumbuhan. Jamur memperoleh karbohidrat dalam bentuk gula sederhana (glukosa) dari tumbuhan. Sebaliknya, jamur menyalurkan air dan hara tanah untuk tumbuhan. Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi. Walau ada juga yang bersimbiosis dengan rizoid (akar semu) jamur. Asosiasi antara akar tanaman dengan jamur ini memberikan manfaat yang sangat baik bagi tanah dan tanaman inang yang merupakan tempat jamur tersebut tumbuh dan berkembang biak. Jamur mikoriza berperan untuk meningkatkan ketahanan hidup bibit terhadap penyakit dan meningkatkan pertumbuhan (Hesti L dan Tata, 2009)

Mikoriza dikenal dengan jamur tanah karena habitatnya berada di dalam tanah dan berada di area perakaran tanaman (rizosfer). Selain disebut sebagai jamur tanah juga biasa dikatakan sebagai jamur akar. Keistimewaan dari jamur ini adalah kemampuannya dalam membantu tanaman untuk menyerap unsur hara terutama unsur hara Phosphates (P) (Syib’li, 2008). Mikoriza merupakan suatu bentuk hubungan simbiosis mutualistik antar cendawan dengan akar tanaman. Baik cendawan maupun tanaman sama-sama memperoleh keuntungan dari asosiasi ini. infeksi ini antara lain berupa pengambilan unsur hara dan adaptasi tanaman yang lebih baik. Dilain pihak, cendawan pun dapat memenuhi keperluan hidupnya (karbohidrat dan keperluan tumbuh lainnya) dari tanaman inang (Anas, 1997). Hampir semua tanaman pertanian akarnya terinfeksi cendawan mikoriza. Gramineae dan Leguminosa umumnya bermikoriza. Jagung merupakan contoh tanaman yang terinfeksi hebat oleh mikoriza. Tanaman pertanian yang telah dilaporkan terinfeksi mikoriza vesikular-arbuskular adalah kedelai, barley, bawang, kacang tunggak, nenas, padi gogo, pepaya, selada, singkong dan sorgum. Tanaman perkebunan yang telah dilaporkan akarnya terinfeksi mikoriza adalah tebu, teh, tembakau, palem, kopi, karet, kapas, jeruk, kakao, apel dan anggur (Rahmawati, 2003).

B.     Rumusan Masalah

  1. Apa saja peranan mikoriza terhadap proses pertumbuhan tanaman?
  2. Apa saja peran mikoriza terhadap terciptanya petanian berkelanjutan?
  3. Apa saja faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikoriza?

C.    Tujuan

  1. Untuk memberikan pemahaman kepada pembaca tentang peraran mikoriza dalam proses pertumbuhan tanaman
  2. Untuk memberikan penjelasan kepada pembaca tentang peranan penting mikoriza sebagai alternatif untuk menciptakan pertanian berkelanjutan

BAB II

PEMBAHASAN

A.           Peranan Penting Mikoriza Dalam Proses Pertumbuhan Tanaman

Tanaman yang bermikoriza tumbuh lebih baik dari tanaman tanpa bermikoriza. Penyebab utama adalah mikoriza secara efektif dapat meningkatkan penyerapan unsur hara baik unsur hara makro maupun mikro. Selain daripada itu akar yang bermikoriza dapat menyerap unsur hara dalam bentuk terikat dan yang tidak tersedia bagi tanaman (Anas, 1997). Selain daripada membentuk hifa internal, mikoriza juga membentuk hifa ekternal. Pada hifa ekternal akan terbentuk spora, yang merupakan bagian penting bagi mikoriza yang berada diluar akar. Fungsi utama dari hifa ini adalah untuk menyerap fospor dalam tanah. Fospor yang telah diserap oleh hifa ekternal, akan segera dirubah manjadi senyawa polifosfat. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Di dalam arbuskul. Senyawa polifosfat ini kemudian dipindahkan ke dalam hifa internal dan arbuskul. Di dalam arbuskul senyawa polifosfat dipecah menjadi posfat organik yang kemudian dilepaskan ke sel tanaman inang. Adanya hifa ekternal ini penyerapan hara terutama posfor menjadi besar dibanding dengan tanaman yang tidak terinfeksi dengan mikoriza. Peningkatan serafan posfor juga disebabkan oleh makin meluasnya daerah penyerapan, dan kemampuan untuk mengeluarkan suatu enzim yang diserap oleh tanaman. Sebagai contoh dapat dilihat pengaruh mikoriza terhadap pertumbuhan berbagai jenis tanaman dan juga kandungan posfor tanaman (Anas, 1997).

Beberapa keuntungan yang diperoleh dengan adanya simbiosis ini adalah:

  1. Miselium fungi meningkatkan area permukaan akuisisi hara tanah oleh tanaman
  2. Meningkatkan toleransi terhadap kontaminasi logam, kekeringan, serta patogen akar
  3. Memberikan akses bagi tanaman untuk dapat memanfaatkan hara yang tidak tersedia menjadi tersedia bagi tanaman (Gentili & Jumpponen, 2006).

Selanjutnya Sagin Junior dan Da Silva (2006) mengungkapkan bahwa adanya mikoriza berpengaruh terhadap:

  1. Adanya peningkatan absorpsi hara, sehingga waktu yang diperlukan untuk mencapai akar lebih cepat
  2. Meningkatkan toleransi terhadap erosi, pemadatan, keasaman, salinitas,
  3. Melindungi dari herbisida, serta memperbaiki agregasi partikel tanah.

Cumming dan Ning (2003) mengemukakan bahwa simbiosis CMA berperan penting dalam resistansi tanaman terhadap Al. Pengaruh ini terutama terlihat pada peningkatan serapan hara yang diperlukan tanaman (P, Cu, dan Zn). Selain itu, CMA mereduksi akumulasi elemen lain seperti Al, Fe, dan Mn yang menjadi masalah pada tanah masam. Penelitian oleh Lee dan George (2001) menunjukkan bahwa hara P, Zn, dan Cu diserap dan ditransportasikan ke tanaman inang oleh hifa CMA dan sebaliknya unsur-unsur Cd dan Ni tidak ditransportasikan oleh hifa ke tanaman inang. Hal ini menunjukan bahwa kolonisasi CMA dapat melindungi tanaman dari pengaruh toksik unsur Cd dan Ni tersebut. Pada kedelei, infeksi CMA menstimulasi penyerapan Zn. Dengan adanya CMA, konsentrasi Zn pada daun lebih tinggi. Konsentrasi Cu lebih tinggi pada tanaman dengan CMA dibandingkan dengan tanaman tanpa CMA pada tahap awal pertumbuhan, tetapi menurun pada saat berbunga dan setelah itu meningkat lagi (Raman dan Mahadevan, 2006).

Hal ini sejalan dengan Pacovsky et al. (1986) yang mengemukakan bahwa adanya penurunan penyerapan Mn dan Fe sedangkan P, Zn dan Cu meningkat. Perbaikan pertumbuhan tanaman karena mikoriza bergantung pada jumlah fosfor yang tersedia di dalam tanah dan jenis tanamannya. Pengaruh yang mencolok dari mikoriza sering terjadi pada tanah yang kekurangan fosfor. Efisiensi pemupukan P sangat jelas meningkat dengan penggunaan mikoriza. Hasil penelitian Mosse (1981) menunjukkan bahwa tanpa pemupukan TSP produksi singkong pada tanaman yang tidak bermikoriza kurang dari 2 g, sedangkan ditambahkan TSP pada takaran setara dengan 400 kg P/ha, masih belum ada peningkatan hasil singkong pada perlakuan tanpa mikoriza. Hasil baru meningkat bila 800 kg P/ha ditambahkan. Pada tanaman yang diinfeksi mikoriza, penambahan TSP setara dengan 200 kg P/ha saja telah cukup meningkatkan hasil hampir 5 g, penambahan pupuk selanjutnya tidak begitu nyata meningkatkan hasil.

B.     Peranan penting mikoriza terhadap pertanian berkelanjutan

·         Peningkatan Ketahanan terhadap Kekeringan

Tanaman yang bermikoriza lebih tahan terhadap kekeringan dari pada yang tidak bermikoriza. Rusaknya jaringan korteks akibat kekeringan dan matinya akar tidak akan permanen pengaruhnya pada akar yang bermikoriza. Setelah periode kekurangan air (water stress), akar yang bermikoriza akan cepat kembali normal. Hal ini disebabkan karena hifa cendawan mampu menyerap air yang ada pada pori-pori tanah saat akar tanaman tidak mampu lagi menyerap air. Penyebaran hifa yang sangat luas di dalam tanah menyebabkan jumlah air yang diambil meningkat (Anas, 1997). Jaringan hifa ekternal dari mikoriza akan memperluas bidang serapan air dan hara. Disamping itu ukuran hifa yang lebih halus dari bulu-bulu akar memungkinkan hipa bisa menyusup ke pori-pori tanah yang paling kecil (mikro) sehingga hifa bisa menyerap air pada kondisi kadar air tanah yang sangat rendah (Killham, 1994). Serapan air yang lebih besar oleh tanaman bermikoriza, juga membawa unsur hara yang mudah larut dan terbawa oleh aliran masa seperti N, K dan S. sehingga serapan unsur tersebut juga makin meningkat.

Kendala pokok pembudidayaan lahan kering ialah keterbatasan air, baik itu curah hujan maupun air aliran permukaan. Notohadinagoro (1997) mengatakan bahwa tingkat kekeringan pada lahan kering sampai batas tertentu dipengaruhi oleh daya tanah menyimpan air. Tingkat kekeringan berkurang atau lamanya waktu tanpa kekurangan air (water stress) bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air besar. Sebaliknya tingkat kekeringan meningkat, atau lamanya waktu dengan kekurangan air bertambah panjang apabila tanah mempunyai daya simpan air kecil. Lama waktu tanpa atau dengan sedikit kekurangan air menentukan masa musim pertumbuhan tanaman, berarti lama waktu pertanaman dapat dibudidayakan secara tadah hujan.

Inokulasi mikoriza yang mempunyai hifa akan membantu proses penyerapan air yang terikat cukup kuat pada pori mikro tanah. Sehingga panjang musim tanam tanaman pada lahan kering diharapkan dapat terjadi sepanjang tahun. Sejumlah percobaan telah membuktikan hubungan saling menguntungkan, yaitu adanya cendawan mikoriza sangat meningkatkan efisiensi penyerapan mineral dari tanah. Cendawan MVA mempunyai hubungan mutualistik dengan tanaman inang, dengan jalan memobilisasi fosfor dan hara mineral lain dalam tanah, kemudian menukarkan hara ini dengan karbon inang dalam bentuk fotosintat.

·         Perbaikan Struktur Tanah

Mikoriza merupakan salah satu dari jenis jamur. Jamur merupakan suatu alat yang dapat memantapkan struktur tanah. Cendawan mikoriza melalui jaringan hifa eksternal dapat memperbaiki dan memantapkan struktur tanah. Sekresi senyawa-senyawa polisakarida, asam organik dan lendir oleh jaringan hifa eksternal yang mampu mengikat butir-butir primer menjadi agregat mikro. “Organic binding agent” ini sangat penting artinya dalam stabilisasi agregat mikro. Kemudian agregat mikro melalui proses “mechanical binding action” oleh hifa eksternal akan membentuk agregat makro yang mantap. Wright dan Uphadhyaya (1998) mengatakan bahwa cendawan VAM mengasilkan senyawa glycoprotein glomalin yang sangat berkorelasi dengan peningkatan kemantapan agregat.

Menurut Hakim, et al (1986) faktor-faktor yang terlibat dalam pembentukan struktur adalah organisme, seperti benang-benang jamur yang dapat mengikat satu partikel tanah dan partikel lainnya Selain akibat dari perpanjangan dari hifa-hifa eksternal pada jamur mikoriza, sekresi dari senyawa-senyawa polysakarida, asam organik dan lendir yang di produksi juga oleh hifa-hifa eksternal, akan mampu mengikat butir-butir primer/agregat mikro tanah menjadi butir sekunder/agregat makro. Agen organik ini sangat penting dalm menstabilkan agregat mikro dan melalui kekuatan perekat dan pengikatan oleh asam-asam dan hifa tadi akan membentuk agregat makro yang mantap (Subiksa, 2002). Prinsip kerja dari mikoriza ini adalah menginfeksi sistem perakaran tanaman inang, memproduksi jalinan hifa secara intensif sehingga tanaman yang mengandung mikoriza tersebut akan mampu meningkatkan kapasitas dalam penyerapan unsur hara (Iskandar, 2002).

Konsentrasi glomalin lebih tinggi ditemukan pada tanah-tanah yang tidak diolah dibandingkan dengan yang diolah. Glomalin dihasilkan dari sekresi hifa eksternal bersama enzim-enzim dan senyawa polisakarida lainnya. Pengolahan tanah menyebabkan rusaknya jaringan hifa sehingga sekresi yang dihasilkan sangat sedikit. Pembentukan struktur yang mantap sangat penting artinya terutama pada tanah dengan tekstur berliat atau berpasir. Thomas et al (1993) menyatakan bahwa cendawan VAM pada tanaman bawang di tanah bertekstur lempung liat berpasir secara nyata menyebabkan agregat tanah menjadi lebih baik, lebih berpori dan memiliki permeabilitas yang tinggi, namun tetap memiliki kemampuan memegang air yang cukup untuk menjaga kelembaban tanah.. Struktur tanah yang baik akan meningkatkan aerasi dan laju infiltrasi serta mengurangi erosi tanah, yang pada akhirnya akan meningkatkan pertumbuhan tanaman. Dengan demikian mereka beranggapan bahwa cendawan mikoriza bukan hanya simbion bagi tanaman, tapi juga bagi tanah.

Pembentukan struktur tanah yang baik merupakan modal bagi perbaikan sifat fisik tanah yang lain. Sifat-sifat fisik tanah yang diperbaiki akibat terbentuknya struktur tanah yang baik seperti perbaikan porositas tanah, perbaikan permeabilitas tanah serta perbaikan dari pada tata udara tanah. Perbaikan dari struktur tanah juga akan berpengaruh langsung terhadap perkembangan akar tanaman. Pada lahan kering dengan makin baiknya perkembangan akar tanaman, akan lebih mempermudah tanaman untuk mendapatkan unsur hara dan air, karena memang pada lahan kering faktor pembatas utama dalam peningkatan produktivitasnya adalah kahat unsur hara dan kekurangan air. Akibat lain dari kurangnya ketersediaan air pada lahan kering adalah kurang atau miskin bahan organik. Kemiskinan bahan organik akan memburukkan struktur tanah, lebih-lebih pada tanah yang bertekstur kasar sehubungan dengan taraf pelapukan rendah.

·         Peningkatan Serapan Hara P

Mikoriza juga diketahui berinteraksi sinergis dengan bakteri pelarut fosfat atau bakteri pengikat N. Beberapa negara terungkap bahwa beberapa jenis tanaman memberikan respon positif terhadap inokulasi cendawan mikoriza (MVA). Tanaman bermikoriza dapat menyerap P, dalam jumlah beberapa kali lebih besar dibanding tanaman tanpa mikoriza, khususnya pada tanah yang miskin P. Disamping itu tanaman yang terinfeksi MVA ternyata daya tahan tanaman dan laju fotosintesis lebih tinggi dibanding tanaman tanpa MVA, meskipun konsentrasi P pada daun rendah (kekurangan). Dengan adanya hifa (benang-benang yang bergerak luas penyebarannya), maka tanaman menjadi lebih tahan kekeringan. Hifa cendawan ini memiliki kemampuan istimewa, disaat akar tanaman sudah kesulitan menyerap air, hifa jamur masih mampu meyerap air dari pori-pori tanah.

Secara alami mikoriza terdapat secara luas, mulai dari daerah artik tundra sampai ke daerah tropis dan dari daerah bergurun pasir sampai ke hutan hujan tropis, yang melibatkan lebih dari 80% tumbuhan yang ada (Subiksa, 2002). Perkembangan kehidupan mikoriza berlangsung di dalam jaringan akar tanaman inang, setelah didahului dengan proses infeksi akar. Prihastuti et al., (2006) menyatakan bahwa lahan kering masam di Lampung Tengah banyak mengandung mikoriza vesikular-arbuskular, yang diindikasikan dengan tingginya tingkat infeksi akar, yaitu mencapai 70,50–90,33%. Lahan kering masam merupakan lahan yang kurang produktif, namun sangat luas ketersediaannya dan berpotensi untuk dikembangkan (Sudaryono, 2006). Lahan kering masam merupakan lahan yang perlu diupayakan kesuburannya untuk digunakan sebagai areal tanam komoditi pangan.

Mikoriza mampu tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan yang kurang menguntungkan bagi pertumbuhan mikroba tanah lainnya (Keltjen, 1997). Semakin banyak tingkat infeksi akar yang terjadi, memungkinkan jaringan hifa eksternal yang dibentuk semakin panjang dan menjadikan akar mampu menyerap fosfat lebih cepat dan lebih banyak (Stribley, 1987). Mikoriza mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produktivitas tanaman di lahan marginal maupun dalam menjaga keseimbangan lingkungan (Aher, 2004).

Dengan demikian inokulasi mikoriza diharapkan dapat membantu dalam merehabilitasi lahan kritis, yang sampai saat ini belum ada usaha pelestarian lahan kritis secara maksimal. Hubungan timbal balik antara cendawan mikoriza dengan tanaman inangnya mendatangkan manfaat positif bagi keduanya (simbiosis mutualistis). Karenanya inokulasi cendawan mikoriza dapat dikatakan sebagai ‘biofertilization”, baik untuk tanaman pangan, perkebunan, kehutanan maupun tanaman penghijauan (Killham, 1994).

Bagi tanaman inang, adanya asosiasi ini, dapat memberikan manfaat yang sangat besar bagi pertumbuhannya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara tidak langsung, cendawan mikoriza berperan dalam perbaikan struktur tanah, meningkatkan kelarutan hara dan proses pelapukan bahan induk. Sedangkan secara langsung, cendawan mikoriza dapat meningkatkan serapan air, hara dan melindungi tanaman dari patogen akar dan unsur toksik.

Nuhamara (1994) mengatakan bahwa sedikitnya ada 5 hal yang dapat membantu perkembangan tanaman dari adanya mikoriza ini yaitu :

  1. Mikoriza dapat meningkatkan absorpsi hara dari dalam tanah
  2. Mikoriza dapat berperan sebagai penghalang biologi terhadap infeksi patogen akar.
  3. Meningkatkan ketahanan tanaman terhadap kekeringan dan kelembaban yang ekstrim
  4. Meningkatkan produksi hormon pertumbuhan dan zat pengatur tumbuh lainnya seperti auxin.

C.    Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan mikoriza

Banyak faktor biotik dan abiotik yaang menentukan perkembangan CMA. Faktor-faktor tersebut antar lain suhu, tanah, kadar air tanah, pH, bahan organik tanah, intensitas cahaya dan ketersediaan hara, logam berat dan fungisida. Berikut ini faktor tersebut diuraikan satu persatu.

  • Suhu

Suhu yang relatif tinggi akan meningkatkan aktivitas cendawan. Untuk daerah tropika basah, hal ini menguntungkan. Proses perkecambahan pembentukan CMA melalui 3 tahap yaitu perkecambahan spora di tanah, penetrasi hifa ke dalam sel akar dan perkembangan hifa di dalam korteks akar. Suhu optimum untuk perkecambahan spora sangat beragam tergantung pada jenisnya (Mosse, 1981). Suhu yang tinggi pada siang hari (35 0C) tidak menghambat perkembangan akar dan aktivitas fisiologi CMA. Peran mikoriza hanya menurun pada suhu diatas 40 0C. suhu bukan merupakan faktor pembatas utama bagi aktivitas CMA. Suhu yang sangat tingi lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman inang (Mosse, 1981).

  • Bahan Organik

Bahan organik merupakan salah satu komponen penyusun tanah yang penting disamping bahan anorganik, air dan udara. Jumlah spora CMA tampaknya berhubungan erat dengan kandungan bahan organik di dalam tanah. Jumlah maksimum spora ditemukan pada tanah-tanah yang mengandung bahan organik 1-2 persen sedangkan paada tanah-tanah berbahan organik kurang dari 0.5 persen kandungan spora sangat rendah (Anas, 1997).
Residu akar mempengaruhi ekologi cendawan CMA, karena serasah akar yang terinfeksi mikoriza merupakan sarana penting untuk mempertahankan generasi CMA dari satu tanaman ke tanaman berikutnya. Serasah tersebut mengandung hifa, vesikel dan spora yang dapat menginfeksi CMA. Disaamping itu juga berfungsi sebagai inokulan untuk generasi tanaman berikutnya (Anas, 1997).

  • Cahaya dan Ketersediaan Hara

Anas (1997) menyimpulkan bahwa intensitas cahaya yang tinggi dengan kekahatan nitrogen ataupun fospor sedang akan meningkatkan jumlah karbohidrat didalam akar sehingga membuat tanaman lebih peka terhadap infeksi oleh cendawaan CMA. Derajat infeksi terbesar terjadi pada tanah-tanah yang mempunyai kesuburan yang rendah. Pertumbuhan perakaran yang sangat aktif jarang terinfeksi oleh CMA. Jika pertumbuhan dan perkembangan akar menurun infeksi CMA meningkat.

Peran mikoriza yang erat dengan penyedian P bagi tanaman menunjukan keterikatan khusus antara mikoriza dan status P tanah. Pada wilayah beriklim sedang konsentrasi P tanah yang tinggi menyebabkan menurunnya infeksi CMA yang mungkin disebabkan konsentrasi P internal yang tinggi dalam jaringan inang (Anas., 1997).

BAB III

PENUTUP

A.    KESIMPULAN

Dari beberapa penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa  Mikoriza merupakan jamur yang hidup secara bersimbiosis dengan sistem perakaran tanaman tingkat tinggi, dalam beberapa penelitian bahwa  mikoriza dapat menggantikan kira-kira 50% kebutuhan fosfor, 40% kebutuhan nitrogen, dan 25% kebutuhan kalium untuk tanaman. Penggunaan mikoriza lebih menarik ditinjau dari segi ekologi karena aman dipakai, tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Bila mikoriza tertentu telah berkembang dengan baik di suatu tanah, maka manfaatnya akan diperoleh untuk selamanya. Mikoriza juga membantu tanaman untuk beradaptasi pada pH yang rendah. Serta mikoria juga dapat membantu untuk menanggulangi kekeringan lahan sehingga tercipta pertanian yang berkelanjutan.

B.     SARAN

Semoga penulisan makalah ini menjadi salah satu tambahan ilmu pengetahuan dan informasi kepada pembaca tentang pentingnya melestarikan pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan mikoria sebagai alternative baru dalam memecahkan masalah pertanian, Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran yang konstruktif dari pembaca demi sempurnanya penulisan dimasa yang akan datang.

OPTIMALISASI PENGENDALIAN HAMA WERENG HIJAU SECARA EFEKTIF

Posted in Uncategorized on January 4, 2012 by opick_agribisnistrunojoyo

BAB I

PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG

Wereng hijau merupakan vektor dari penyakit tungro pada tanaman  padi. Dariempat spesies wereng hijau  Nephotettix virescens Distant yang paling efisien memindahkan virus tungro (Siwi dan Tantera, 1982). Kehilangan hasil akibat serangantungro pada tanaman padi sangat bervariasi, tergantung pada saat tanaman terinfeksi, lokasi, titik infeksi, musim tanam dan jenis varietas yang ditanam.Di Indonesia terdapatempat spesies wereng hijau, yaituNephotettix virescens, N. nigropictus, N.malayanus, dan N. parvus.Di antaraempat spesies tersebut, N. virescensmerupakan vektor yang paling efisiendalam menularkan kompleks viruspenyebab penyakit tungro (Hibino danCabunagan 1986).Di antara vektor virus tungro yang ada di Indonesia, N. virescensadalah vektor terpenting, Karenna paling efektif menularkan virus tungro dan populasinya dominan di antaravektor lain (Himawati dan Supriyadi, 2003; Supriyadi et al., 2004).Nephottetix sp. dikenal sebagai wereng hijau, karma warnanya hijau Banyak menyerang bagian daun atamanpaid. Serangga dewasa berukuran 4 – 6 mm,telurnya berbentuk bulat panjang atau lonjong berwarna terang (kuning pucat),berukuran 1,3 X 0,30 mm. Telur ini diletakkan berderet-deret sebanyak 5 -25butir. Serangga betina mampu bertelur 200 – 300 butir yang diletakkan di dalamjaringan pelepah daun.Telur menetas setelah 4 – 8 hari Ban membentukserangga muda (nimfa).Nimfa ini mengalami 5 kali ganti kulit selama 16 -18 hari.

Penyakit tungro disebabkan oleh kompleks virus berbentuk batang dan bulat dan ditularkan oleh werenghijau terutama Nephotettix virescens.Penularan penyakit bersifat semipersisten dengan periode pemerolehan danpenularan virus oleh vektor yang sangat singkat. Penyakit ini merupakan salah satu kendala dalam menciptakanstabilitas produksi padiKarenna bersifat endemis di sentra produksi paid nasional Jawa dan Bali. Fluktuasi kepadatanpopulasi vektor mempengaruhi keberadaan penyakit.

Kepadatan populasi wereng hijau umumnya rendah (kurangdari 1 ekor imago/rumpun) dan hanya meningkat sekali selama satu periode pertanaman paid, terutama panda polatanam tidak serempak. Pemencaran imago mempengaruhi dinamika populasi wereng hijau.Oleh Karenna itu, upayamenekan proporsi vektor infektif merupakan alternatif strategi dalam menghambat penyebaran penyakit tungrodan mengimbangi kemampuan pemencaran imago. Berdasarkan strategi tersebut pengendalian terpadu penyakittungro disusun dengan mengintegrasikan taktik pengendalian yang adapt menekan aktivitas pemencaran imagowereng hijau dan mengurangi kemampuan dalam memperoleh maupun menularkan virus. Taktik pengendaliandianjurkan diintegrasikan bertahap sesuai dengan tahapan stadia pertumbuhan paid.

B.     RUMUSAN MASALAH

  1. Bagaimana proses pertumbuhan wereng hijau?
  2. Apa saja gejala yang ditimbulkan oleh tanaman padi yang terjangkit wereng hijau?
  3. Apa dampak negatif wereng hijau terhadap pertumbuhan tanaman padi?
  4. Bagaimana cara pengendalian hama wereng hijau secara efektif?

C.     TUJUAN

Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui Bagaimana proses pertumbuhan wereng hijau
  2. Untuk mengetahui Apa saja gejala yang ditimbulkan oleh tanaman padi yang terjangkit wereng hijau
  3. Untuk mengetahui Apa dampak negatif wereng hijau terhadap pertumbuhan tanaman padi
  4. Untuk mengetahui Bagaimana cara pengendalian hama wereng hijau secara efektif

BAB II

PEMBAHASAN

A.     Proses pertumbuhan wereng hijau

Pertumbuhan dan fluktuasi populasi serangga pembawa virus atau serangga pada umumnya ditentukan oleh interaksi antar faktor intrinsik pada serangga dan adanya faktor lingkungan yang efektif. Faktor intrinsik adalah faktor bawaan atau genetik yang menentukan besarnya potensi pertumbuhan populasi, sedang faktor linglungan efektif meliputi cuaca makanan, tempat berlindung dan hewan atau organisme lain termasuk predator, parasit dan penyakit. Secara langsung dan tidak langsung, iklim berpengaruh terhadap brbagai aspek kehidupan serangga dan perilaku sehingga menentukan populasi serangga, dan berpengaru terhadap populasi terutama pada tingkat kelahiran, kematian, pertambahan jumlah dan penyebaran serangga. Faktor – faktor iklim yang penting peranannya dalam berbagai kehidupan serangga, yaitu : suhu, kelembaban nisbi udara, peguapan, angin, dan fotoperiodisitas (Fachruddin, 1980).

Perkembangan wereng hijau dari telur sampai dewasa melalui 3 stadia, yaitu telur, nimfa, dan dewasa dengan metamorfosis paurometabola.

  • Telur

Telur wereng hijau berbentuk bulat memanjang dan agak meruncing pada kedua ujungnya.Telur yang baru diletakkan berwarna bening, kemudian menjadi putih kekuning-kuningan.Pada umur 2 atau 3 hari dua bintik merah mulai tampak pada salah satu ujungnya.Bintik tersebut lebih nyata pada umur yang lebih tua dan ini merupakan mata facet embrio (Fachruddin, 1980).Serangga betine bertelur pada siang hari.Telur-telur diletakkan pada ibu tulang daun atau di pelepah daun.Stadia telur wereng hijau tergantung pada keadaan fisik tumbuhan terutama suhu.

Masa inkubasi telur antara 6 – 10 hari. Perkembangan 29º – 35ºC, dengan masa inkubasi 6,3 – 7,3 hari. Pada suhu yang lebih rendah masa inkubasi bertambah lama.Sebagian besar telur menetas diwaktu pagi antara pukul 06.00 sampai 12.00, namun pada suhu rendah (20ºC) waktu penetasan telur tersebar dari pagi sampai sore hati (Gallagher, 1991).

  • Nimfa

Nimfa N. virescens terdiri atas 5 instar yang berlangsung keseluruhannya selama 13-18 hari. Nimfa muda berwarna putih kekuningan.Setelah berganti kulit warnanya menjadi kuning atau hijau kekuningan hingga hijau terang. Setiap kali akan berganti kulit nimfa tidak aktif dan tetap pada tempatnya. Nimfa dari telur yang menetas akan segera bergerak menuju ke bagian atas tanaman dan berkumpul pada bagian bawah daun tua. Pada instar ke-2 dan seterusnya nimfa-nimfa tersebut merata pada daun padi. Pada tanaman yang layu nimfa berkumpul pada bagian pangkal pelepah daun (Hibino, 1987).

  • Imago

Wereng hijau yang baru menjadi dewasa berwarna kekuning-kuningan.Warna tersebut secara bertahap berubah menjadi hijau kekuning-kuningan yang akhirnya berubah menjadi hijau dalam waktu ± 3 jam.Wereng hijau menjadi dewasa pada waktu pagi.Imago jantan dan betina dapat hidup sampai 20 hari. Imago wereng hijau mempunyai tanda pada sayap bagian bawah yang lebih hitam dibanding dengan yang lain. Wereng hijau betina dapat menghasilkan telur sampai 300 butir. Produksi telur wereng hijau yang tertinggi terjadi pada suhu antara 29º- 33º C. Pada suhu 20º C imago betina mati sebelum bertelur, sedangkan pada suhu 35º C produksi telur rata-rata rendah karena masa imago leih pendek pada suhu itu (Fachruddin, 1980).

B.     Gejala Serangan Hama Wereng Hijau Terhadap Tanaman Padi

Wereng hijau (N. Virescens) menghisap cairan dari tanaman yang menyebabkan pertumbuhan tanaman terhambat. Nimfa instar awal makannya sangat sedikit sehingga menyebabkan kerusakan kecil pada tanaman. Tanaman akan mengalam kerusakan bila terdapat banyak nimfa instar akhir dan imago pada tanaman, karena terhisapnya unsur-unsur hara dan cairan tanaman (Gallagher, 1991).Penyakit tungro pada padi disebabkan oleh kompleks virus berbentuk batang dan bulat dan ditularkan oleh wereng hijau, gejala utama penyakit tungro tampak pada perubahan warna pada daun muda menjadi kuning orange mulai dari ujung daun, jumlah anakan berkurang, tanaman kerdil dan pertumbuhannya terhambat. Gejala penyakit tersebar mengelompok, hamparan tanaman padi terlihat seperti bergelombang karena adanya perbedaan tinggi tanaman antara tanaman sehat dan yang terinfeksi. Tanaman muda lebih rentan. Pada varietas tertentu sering gejala tungro menghilang setelah beberapa lama dan muncul kembali pada anakan atau turiang (Hibino 1987).

C.     Dampak negatif wereng hijau terhadap pertumbuhan tanaman padi

Tanaman yang terserang tunas berkurang dan berwarna kuning. Serangga pada tanaman muda dapat menyebabkan mulai yang dihasilkan steril dan kecil.Wereng hijau dapat berperan sebagai vactor penyakit yang disebabkan oleh virus tungo.Secara morfologis tanaman padi yang tertular virus tungro menjadi kerdil, daun berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-bercak berwarna coklat.Perubahan warna daun di mulai dari ujung, meluas ke bagian pangkal.Jumlah anakan sedikit dan sebagian besar gabah hampa.Infeksi virus tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, malai pendek sehingga jumlah gabah per malai rendah.Serangan yang terjadi pada tanaman yang telah mengeluarkan malai umumnya tidak menimbulkan kerusakan fatal.

Tinggi rendahnya intensitas serangan tungro ditentukan oleh beberapa faktor diantaranya: ketersediaan sumber inokulum (tanaman terserang), adanya vektor (penular), adanya varietas peka dan kondisi lingkungan yang memungkinkan, namun keberadaan vektor yang mengandung virus adalah faktor terpenting. Intensitas penyakit tungro juga dipengaruhi oleh tingkat ketahanan varietas dan stadia tanaman. Tanaman stadia muda, sumber inokulum tersedia dan populasi vektor tinggi akan menyebabkan tingginya intensitas serangan tungro. Ledakan tungro biasanya terjadi dari sumber infeksi yang berkembang pada pertanaman yang tidak serempak.

D.    Cara Pencegahan dan pengendalian Hama Wereng Hijau Secara Efektif

Pada prinsipnya penyakit tungro tidak dapat dikendalikan secara langsung artinya, tanaman yang telah terserang tidak dapat disembuhkan. Pengendalian bertujuan untuk mencegah dan meluasnya serangan serta menekan populasi wereng hijau yang menularkan penyakit. Mengingat banyaknya faktor yang berpengaruh pada terjadinya serangan dan intensitas serangan, serta untuk mencapai efektivitas dan efisiensi, upaya pengedalian harus dilakukan secara terpadu yang meliputi :

  • Penggunaan pestisida

Penggunaan pestisida dalam mengendalikan tungro bertujuan untuk eradikasi wereng hijau pada pertanaman yang telah tertular tungro agar tidak menyebar ke pertanaman lain dan mencegah terjadinya infeksi virus pada tanaman sehat. Penggunaan insektisida sistemik butiran (carbofuran) lebih efektif mencegah penularan tungro. Mengingat infeksi virus dapat terjadi sejak di pesemaian, sebaiknya pencegahan dilakukan denganmenggunakan insektisida confidor. Setelah beberapa ilmuan melakukan penelitian ternyata penggunaan insektisida confidor ini cukup efektif dalam pemberantasan hama wereng hijau. Insesektisida hanya efektif menekan populasi wereng hijau pada pertanaman padi yang menerapkan pola tanam serempak. Karena itu pengendalian penyakit tungro yang sangat berbahaya akan berhasil apabila dilakukan secara bersama-sama dalam hamparan relatif luas, utamakan pencegahan melalui pengelolaan tanaman yang tepat (PTT) untuk memperoleh tanaman yang sehat sehinga mampu bertahan dari ancaman hama dan penyakit.

  • Pemupukan N yang tepat

Pemupukan N berlebihan menyebab-kan tanaman menjadi lemah, mudah terserang wereng hijau sehingga memudahkan terjadi inveksi tungro, oleh karena itu penggunaan pupuk N harus berdasarkan pengamatan dengan Bagan Warna Daun (BWD) untuk mengetahui waktu pemupukan yang paling tepat. Dengan BWD, pemberian pupuk N secara berangsur-angsur sesuai kebutuhan tanaman sehingga tanaman tidak akan menyerap N secara berlebihan.

  • Menanam varietas tahan

Menanam varietas tahan merupakan komponen penting dalam pengendalian penyakit tungro.Varietas tahan artinya mampu mempertahankan diri dari infeksi virus dan atau penularan virus oleh wereng hijau.Walaupun terserang, varietas tahan tidak menunjukkan kerusakan fatal, sehingga dapat menghasilkan secara normal. Ada beberapa jenis varietas yang mampu tahan terhadap serangan hama wereng hijau, jenis  varietas yang mampu tahan terhadap serangan hama wereng hijau tersebut adalah Tukad Petanu , Tukad Unda , Tukad Balian , Bondoyudo, Kalimas.

  • Penanaman serempak

Penanaman serempak merupaka salah satu cara pengendalian hama wereng hijau secara efektif, hal itu disebabkan oleh penanaman tidak serempak menjamin ketersediaan inang dalam rentang waktu yang panjang bagi perkembangan virus tungro, sedangkan bertanam serempak akan memutus siklus hidup wereng hijau dan keberadaan sumber inokulum. Penularan tungro tidak akan terjadi apabila tidak tersedia sumber inokulum walaupun ditemukan wereng hijau, sebaliknya walaupun populasi wereng hijau rendah akan terjadi penularan apabila tersedia sumber inokulum.

BAB III

PENDAHULUAN

1.      KESIMPULAN

Wereng hijau merupakan vektor dari penyakit tungro pada tanaman  padi. Dariempat spesies wereng hijau  Nephotettix virescens Distant yang paling efisien memindahkan virus tungro (Siwi dan Tantera, 1982). Wereng hijau (N. virescens )merupakan vektor yang paling efisiendalam menularkan kompleks viruspenyebab penyakit tungro (Hibino danCabunagan 1986).  Di antara vektor virus tungro yang ada di Indonesia, N. virescensadalah vektor terpenting, Karenna paling efektif menularkan virus tungro dan populasinya dominan di antaravektor lain (Himawati dan Supriyadi, 2003; Supriyadi et al., 2004). Wereng hijau ini merupakan hama yang sangat berbahaya terhadap perkembangan tanaman padi, tanaman padi yang terjangkit hama wereng hijau akan mengalami permasalahn terhadap proses pertumbuhan tanaman, sehingga hal itu akan berdampak terhadap hasil produksi. Pengendalian hama wereng hijau secara efektif sangat penting untuk dilakukan oleh para petani agar tanaman padi tersebut mampu tumbuh dan berkembang secara optimal.

2.      SARAN

Semoga penulisan makalah ini menjadi salah satu tambahan ilmu pengetahuan dan informasi kepada pembaca tentang pentingnya melestarikan pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan mikoria sebagai alternative baru dalam memecahkan masalah pertanian, Oleh karena itu, penulis senantiasa mengharapkan kritikan dan saran yang konstruktif dari pembaca demi sempurnanya penulisan dimasa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Widiarta IN, Burhanuddin, Daradjat AA, Hasanuddin A. 2004. Status dan program penelitian pengendalian terpadu penyakit tungro. Prosiding Seminar Nasional Status Program Penelitian Tungro Mendukung Keberlanjutan Produksi Padi Nasional. Makassar, 7 – 8 September 2004. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Litbang Pertanian. Hal 61-89.

http://centongkaleng.wordpress.com/2011/08/05/hama-padi-wereng/

http://centongkaleng.wordpress.com/tag/wereng-hijau/

http://encum-nurhidayat.blogspot.com/2011/05/wereng-hijau-green-leafhopper.html

PKM_KEWIRAUSAHAAN Gojema Daging Sayur

Posted in Uncategorized on January 4, 2012 by opick_agribisnistrunojoyo
Latar Belakang

Madura merupakan salah satu pulau yang sangat berpotensi dalam bidang pertanian dan kelautan. Banyak orang beranggapan bahwa pulau Madura sangat kaya akan hasil pertanian, baik yang bersifat pangan maupun non pangan. Akan tetapi pemanfaatan hasil pertanian saat ini masih kurang optimal, hal itu disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang bagaimana mengkolaborsikan hasil pertanian sehingga menjadi produk yang bisa bernilai ekonomis tinggi.

Singkong merupakan salah satu hasil pertanian masyarakat Madura yang sangat populer di kalangan masyarakat pedesaan, mereka memanfaatkan singkong sebagai salah satu makanan pokok yang sangat populer dan sangat diminati oleh masyarakat pedesaan. Masyarakat Madura saat ini masih belum mampu mengelola singkong secara optimal, hal itu disebabkan oleh kurangnya kreativitas yang masyarakat miliki, Jemblem merupakan salah satu gorengan yang berbahan dasar singkong yang dikolaborasikan dengan campuran gula merah, saat ini jemblem  sangat populer di kalangan masyarakat Madura khususnya masyarakat yang tinggal di desa, dan pada umumnya jemblem yang biasa dijual dipasaran hanya jemblem yang isinya gula merah, sehingga minat masyarakat untuk membeli jemblem sangat sedikit, hal tersebut disebabkan oleh cita rasa jemblem yang dihasilkan kurang bervariasi.

 Padahal singkong  juga bisa dikolaborasikan dengan hasil pertanian lainnya, seperti sayur-sayuran sehingga tercipta sebuah gorengan yang mempunyai kandungan gizi yang baik serta bernilai ekonomis tinggi, salah satunya adalah Gojema Daging Sayur, Gojema Daging Sayur merupakan kepanjangan dari ‘Gorengan Jemblem Madura Daging Sayur’’, Gojema Daging Sayur ini merupakan gorengan yang berbahan dasar singkong yang diisi dengan aneka macam  sayuran dan campuran daging, sehingga tercipta sebuah gorengan yang bisa menjadi salah satu wisata kuliner unggulan khas Madura.

Rumusan masalah
  1. Bagaimana upaya  yang harus dilakukan untuk menarik konsumen untuk membeli Gojema Daging Sayur tersebut?
  2. Bagaimana cara membuat Gojema Daging Sayur tersebut?
  3. Bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk menjaga cita rasa Gojema Daging Sayur?
Tujuan

Tujuan dari diadakan penelitian usaha ini adalah:

  1. Untuk mengetahui upaya apa yang harus dilakukan untuk menarik konsumen untuk membeli Gojema Daging Sayur
  2. Untuk mengetahui Bagaimana cara membuat Gojema Daging Sayur
  3. Untuk mengetahui upaya yang harus dilakukan untuk menjaga cita rasa Gojema Daging Sayur
Luaran yang diharapkan

Dengan adanya ide usaha ini mampu memberikan output positif terhadap mahasiswa serta masyarakat sehingga bisa menjadi gambaran usaha yang bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan , harapan dari pembuatan Gojema Daging Sayur ini :

  1. Bagi pedagang gorengan
  • Menjadikan Gojema Daging Sayur tersebut sebagai salah satu wisata kuliner khas Madura yang benilai ekonomis tinggi
  1. Bagi pembuat ide atau mahasiswa
  • Untuk menuangkan ide kreatif yang mereka miliki
  • Untuk belajar menciptakan peluang usaha dengan mengkolaborasikan hasil pertanian sehingga menjadi peluang usaha yang sederhana untuk kalangan mahasiswa
  1. Bagi masyarakat
  • Kewirausahaan ini memberikan output positif khususnya bagi para petani singkong yang saat ini mulai berkembang diPulau Madura
  • Memberikan suatu gambaran usaha sederhana kepada masyarakat dengan memanfaatkan potensi lokal sehingga menjadi peluang usaha rumah tangga yang bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan
Kegunaan program

Program kewirausahaan Gojema Daging Sayur ini dibuat untuk menciptakan peluang usaha yang sangat bagus dan sederhana. Serta kewirausahaan ini sangat cocok untuk dijadikan sebagai peluang usaha bagi mahasiswa dan dan masyarakat untuk dijadikan sebagai tambahan sumber penghasilan. Kegunaan program kewirausahaan Gojema Daging Sayur ini :

  1. Pedagang gorengan khas Madura
  • Dapat menjadi salah satu wisata kuliner khas Madura yang dapat menarik konsumen serta bisa dimanfaatkan sebagai peluang usaha yang menjanjikan
  1.   Mahasiswa/pencetus ide usaha
  • Meningkatkan peran mahasiswa dalam meningkatkan kreatifitas serta pengembangan ilmu pengetahuan dalam berwirausaha sebagaimana yang terkandung dalam tri fungsi mahasiswa
  1. Masyarakat
  • Membantu menciptakan peluang usaha bagi masyarakat yang bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan
Gambaran umum rancangan usaha

Madura merupakan sebuah pulau yang mempunyai keunggulan di bidang pertanian, hal itu dibuktikan dengan persentase hasil pertanian setiap tahun mengalami peningkatan, sehingga perlu adanya perhatian khusus untuk dijadikan sebagai peluang usaha sederhana yang bisa menjadi sumber pengasilan sehari-hari. Saat ini pengolaan hasil pertanian di Madura masih belum optimal, hal itu di sebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat dalam membaca peluang usaha, padahal banyak hasil pertanian saat ini yang masih belum optimal dalam pengelolaannya, seperti halnya singkong. Singkong merupakan hasil pertanian jenis umbi-umbian yang sangat populer di kalangan masyarakat Madura, khususnya masyarakat yang tinggal di desa, masyarakat Madura menjadikan singkong sebagai salah satu makanan pokok khas Madura, serta sebagian masyarakat Madura juga menjadikan singkong sebagai peluang usaha sederhana. Salah satunya adalah Jemblem Madura, Jemblem merupakan gorengan yang berbahan dasar singkong yang dikolaborasikan dengan campuran gula merah, akan tetapi saat ini minat masyarakat untuk membeli Jemblem mulai menurun, hal itu disebabkan oleh cita rasa Jemblem yang dihasilkan kurang bervariasi, sehingga minat masyarakat untuk membeli Jemblem sangat sedikit.

Gojema Daging Sayur merupakan salah satu usaha yang sangat sedehana dan bisa di jangkau oleh kalangan Mahasiswa, Gojema Daging Sayur merupakan kepanjangan dari Gorengan Jemblem Madura Daging Sayur, Gojema Daging Sayur ini merupakan Gorengan sejenis jemblem akan tetapi cita rasa yang dihasilkan berbeda, jemblem yang biasa dijual di pasar adalah jemblem yang isinya gula merah sedangkan Gojema Daging Sayur ini merupakan jemblem yang isinya terdiri dari kolaborasi hasil pertanian yang dicampur dengan potongan daging yang telah dihaluskan, sehingga tercipta cita rasa yang berbeda dengan jemblem yang biasa di jual di pasaran. Hal itu menjadi salah satu alternatif untuk menarik minat konsumen untuk membeli Gojema Daging Sayur tersebut, sehingga Gojema Daging Sayur bisa menjadi peluang usaha sederhana yang benilai ekonomis tinggi serta sebagai tambahan penghasilan.

Sumber daya yang dapat dijadikan sebagai pengelola usaha sederhana ini adalah Mahasiswa dan Masyarakat. Target pasar Gojema Daging Sayur ini merupakan mahasiswa dan semua lapisan masyarakat, hal itu disebabkan oleh peluang usaha sederhana tersebut mempunyai output positif dan bisa dijadikan sebagai sumber penghasilan.

Perhitungan analisis biaya produksi mulai dari biaya investasi sampai biaya operasi untuk mendapatkan hasil yang maksimal dan keuntungan yang diperoleh.
  Analisis ekonomi

Tabel 1. Analisis biaya produksi pembuatan Gojema Daging Sayur 5 kg singkong

Biaya produksi

Jumlah

Harga

Total

Bahan baku

 

  1. Singkong

5 kg

Rp. 1.250,00/kg Rp. 6.250,00
  1. Daging ayam

 kg

Rp. 20.000,00/kg Rp. 20.000,00
  1. Daging sapi

 kg

Rp. 60.000,00 Rp. 30.000,00
  1. Garam

1 bungkus

Rp. 1.000,00 Rp. 1.000,00
  1. Penyedap rasa

1 bungkus

Rp. 1.000,00 Rp. 1.000,00
  1. Wortel

1 kg

Rp. 3.500,00 Rp. 3.500,00
  1. Sayuran

1 ikat

Rp. 5.000,00 Rp. 5.000,00
Lain-lain

 

Rp. 5.000,00
Jumlah

 

  Rp. 71.750,00

Dalam satu hari, produksi Gojema Daging Sayur ini mencapai 60 biji yang siap dipasarkan, dimana harga satu Gojema Daging Sayur mencapai Rp. 1.500,00. Sehingga mendapat keuntungan bersih :

60        x          Rp. 1.500,00                = Rp. 90.000,00

Biaya produksi                         = Rp. 71.750,00

Total keuntungan                               = Rp. 18.250,00

Keuntungan yang di dapat sebesar Rp. 167.500,00 dengan total produksi 200 gorengan.

Bentuk pemasaran dari Gojema Daging Sayur ini adalah dengan cara menipkan gorengan ini di kantin yang ada di dalam area kampus. Melihat kelayakan usaha yang cukup menjanjikan maka Gojema Daging Sayur ini akan di promosikan dikalangan masyarakat dengan cara menitipkan ke warung-warung disekitar kampus, maka dengan perkembangan program usaha ini dapat menciptakan usaha baru yang sangat sederhana yang dan memberiksn output positif tehadap masyarakat untuk dijadikan gambaran usaha yang bisadijadikan sebagai sumber penghasilan.

Analisis SWOT
  1. Kelebihan (strenght) : Gojema Daging Sayur merupakan kewirausahaan yang sangat sederhana, serta mempunyai banyak kandungan gizi dan karbohidrat yang baik untuk kesehatan tubuh
  2. Kelemahan (weakness) : kelemahan dari kewirausahaan ini yakni kualitas Gojema Daging Sayur ini masih belum terjamin, serta gorengan ini tergolong gorengan yang tidak tahan lama (cepat basi) karena tidak menggunakan bahan pengawet
  3. Peluang (opportunities) : Gojema Daging Sayur ini mempunyai kandungan gizi yang baik dan harga jual yang ditawarkan juga relatif  murah, sehingga untuk menarik minat konsumen untuk membeli Gojema Daging Sayur ini sangat mudah
  4. Ancaman ( threats) : daya saing di pasaran menjadi salah satu ancaman terhadap pemasaran gorengan ini, hal itu di sebabkan oleh gorengan ini tergolong gorengan yang jadul, sehingga minat masyarakat untuk membeli sangat minim
Metode pelaksanaan

Pelaksanaan program kreatifitas mahasiswa kewirausahaan pada pembuatan Gojema Daging Sayur ini terdiri atas tiga tahap pelaksanaan, yakni tahap pra produksi, produksi dan pasca produksi.

  1. Pra produksi

Pada tahapan ini, pelaksanaan kegiatan mengumpulkan berbagai informasi yang berkaitan ‘’ Gojema Daging Sayur’’ , mencari bahan baku pembuatan Gojema Daging Sayur dan alat-alat produksi serta menentukan lokasi produksi

  1. Produksi

Pada tahapan ini lebih kepada penyediaan bahan baku dan alat penunjang lainya serta cara pembuatan Gojema Daging Sayur

  • Bahan baku

–         Singkong

–         Daging ayam

–         Daging sapi

–         Garam

–         Penyedap rasa

–         Wortel

–         Sayuran

  • Alat –alat penunjang

–         Kompor gas

–         Pisau

–         Wajan

–         Tabung gas

–         Panci

–         Parut

_KAPAN KEADILAN ITU__

Posted in Uncategorized on December 31, 2011 by opick_agribisnistrunojoyo

 KAPAN KEADILAN ITU

Ditengah kemilau langit sore dan kesegaran di pagi itu
Terdengar suara tangisan meraung di pinggiran sungai ibukota
Tumbuhan dan binatang tak lagi mau menyapaku
Mereka malu dengan kebiadaban anjing-anjing meja hijau

Kami rindu akan keadilanmu
Lantunan orasi menggema di sudut-sudut kota kemayoran
Bersuara, bersatu untuk sebuah cita-cita bangsa

Kemana aku harus mencari keadilan
Saudaraku telah menjual kepercayaanku

Tuhan

Tunas-tunas muda sudah mulai kuncup
Mereka menginginkan siraman dari-Mu
Dengan embun-embun kebenaran
Tempat persembunyian kalimat-kalimat berharga
Yang didalam kitab suci-Mu

Hello world!

Posted in Uncategorized on December 23, 2011 by opick_agribisnistrunojoyo

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.